Tentu saja gaya itu diterapkan Moerdiono ketika berada di kolam renang alias berenang gaya dada alias gaya katak. Namun ada lagi rahasi bugar Moerdiono. Apa itu?
"Rahasianya, pecicilan (sesuka hati)," ujarnya disambut geerrr wartawan di RSPP, Jl Kyai Maja, Jakarta Selatan, Kamis (24/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurutnya, dibandingkan tenis, renang tidak terlalu membuat ngos-ngosan. "Oh ndak. Ya lihat-lihat dong, kan renang yang gaya katak itu lho," jelasnya sambil memeragakan gerakan berenang.
Moerdiono mengatakan, meski waktunya seolah habis untuk Soeharto, namun dia masih menyempatkan diri untuk berenang.
Berenangnya malam dong Pak? "Hahaha... mau tahu saja," sahutnya.
Selain berolahraga, tidur yang cukup juga menjadi resep Moerdiono untuk menjaga kesehatan. Baginya, asal nyenyak, tidur sebentar saja lebih bermanfaat.
"Tidur itu tergantung pada mutunya. Tidur sebentar tapi nyenyak itu lebih bermanfaat," ujarnya berbagi tips.
Terhitung 21 hari sudah Soeharto berjuang melawan maut di RSPP. Hingga kini, kesehatan penguasa Orba itu naik-turun alias belum stabil. Selama itu pula, keluarga Cendana dan orang-orang terdekat Soeharto setia menungguinya di RSPP, termasuk Moerdiono.
Pria yang gemar mengenakan kemeja putih lengan panjang dan celana jins biru itu hampir setiap hari menjenguk Soeharto. Datang pagi dan baru keluar dari RSPP tengah malam atau paling belakangan.
Sampai-sampai wartawan yang meliput di RSPP beranggapan, kalau Moerdiono sudah pulang, berarti berita hari itu sudah habis. Sebab tidak ada lagi yang bisa diwawancarai.
Di kalangan wartawan, mantan suami Machica Muchtar itu seolah menjadi "Jubir Cendana". Moerdionolah sumber informasi tentang keberadaan anak-cucu Soeharto di kamar tempatnya dirawat di President Suite No 536 lantai 5.
Tak sedikit pun guratan lelah terlihat di wajah pria yang telah memasuki usia senja itu. Bahkan, beberapa hari ini dia kerap nimbrung bersama tim dokter kepresidenan dalam jumpa pers. (irw/sss)











































