Reuni Tempo: Redpel, Kabir, Saya

Catatan Dari Makkah (4-Habis)

Reuni Tempo: Redpel, Kabir, Saya

- detikNews
Kamis, 24 Jan 2008 09:02 WIB
Reuni Tempo: Redpel, Kabir, Saya
Makkah - Mengikuti rombongan Wapres Jusuf Kalla (JK) menjalankan ibadah umroh, bukan sekadar perjalanan spritual, tetapi juga membawa kenangan jauh ke masa lalu. Kebetulan ada Karni Ilyas, Gatot Triyanto dan saya sendiri yang kebetulan mantan wartawan Majalah Tempo.

Maka tak heran, dalam perjalanan yang dimulai 22 Januari 2008 itu, kami tak henti-hentinya berbincang tentang masa-masa asyik saat kami bekerja di Tempo beberapa tahun silam. Karni Ilyas, yang kini menjadi Pemimpin Redaksi Anteve dan Lativi, adalah yang paling senior.

Senior dari sisi umur maupun jabatan. Karni semasa di Tempo adalah Redaktur Pelaksana (Redpel) Bidang Hukum. Sepak terjang di dunia kewartawanan-nya tak diragukan lagi. Ia bersinar ketika memimpin Majalah Forum dan Liputan6 SCTV.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Sedangkan Gatot Triyanto yang kini menjadi pengendali pemberitaan di TransTV juga tergolong pejabat semasa di Tempo. Dia pernah menjadi Kabir alias Kepala Biro saya. Meski kumisnya melintang lebat, tapi Gatot orang yang sangat santun.

Gatot yang untuk pertama kalinya ke Tanah Suci untuk Umroh, sangat antusias mengerjakan ibadah. "Tot, ayo aku foto dengan latar belakang Kabah," ajak saja. Tapi Gatot menolak. "Nanti saja, saya selesaikan sai dulu ya," kata Gatot. Itu salah satu contoh antusiasnya Gatot menjalankan ibadah Umroh.

Kalau Karni dan Gatot adalah eks pejabat Tempo, saya yang paling buncit dari sisi umur maupun jabatan. Status saya di Tempo: reporter. Sudah pegawai tetap. Sudah diangkat dari posisi carep alias calon reporter. Sampai akhirnya saya bergabung dengan Eros Djarot menggarap tabloid Detik dan kemudian bersama Abdul Rahman, Yayan Sopyan dan Didi NUgrahadi membidani detikcom.

Di pesawat pun bacaan kami tetap majalah Tempo. Karni dan saya sepakat, Tempo itu tetap saja majalah yang enak dan perlu dibaca. Teknik penulisannya tetap terunggul. Tak heran jika kami pun tetap merasa bangga menyandang predikat sebagai alumni Majalah Tempo. Alumni tanpa ijazah dan toga. (bdi/asy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads