Peristiwa ini terjadi pada Senin 21 Januari 2008. Saat itu Pramono hendak pulang ke rumahnya di Jl Kemurnian, Taman Sari, Jakarta Barat.
Ketika berada di Gang Kelinci, Jl Gadjah Mada, Jakarta Pusat, ada seorang pria yang menepuk bahu Pramono.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut Sutarno, di dalam taksi sudah menunggu 2 orang yang siap membawa Pramono ke daerah Citayam, Depok. Di Citayam, Pramono dibawa ke kebun kosong dengan tangan dan kaki diikat.
Kemudian gerombolan penculik ini menelepon Sutarno pada Senin malam. Penculik meminta uang tebusan Rp 300 juta.
"Saya tidak punya uang sebanyak itu. Mereka mengancam akan menganiaya anak saya jika permintaan tidak dipenuhi," ucap Sutarno.
Karena tidak sanggup memenuhi permintaan penculik, keesokan harinya pada Selasa 22 Januari 2008, Sutarno melaporkan kejadian tersebut ke Polda Metro Jaya.
Namun pada Selasa malam, Sutarno mendapat telepon dari Pramono. Pramono berhasil kabur dari sekapan penculik setelah melepaskan tali ikatan dari plastik saat seorang penculik yang
menjaganya sedang pergi.
Setelah kabur, Pramono menelepon Sutarno. Kemudian ayah dan anak itu janjian bertemu di Stasiun Depok Lama. Pramono lalu naik angkot ke Stasiun Depok Lama.
Begitu bertemu, Sutarno spontan memeluk anaknya yang babak belur.
"Selain muka babak belur, HP dan dompet berisi ATM dikuras oleh penculik," kata Sutarno.
(nik/nrl)











































