Christine Bradford VS Karsih dan Yanti

Christine Bradford VS Karsih dan Yanti

- detikNews
Rabu, 23 Jan 2008 08:51 WIB
Jakarta - Puluhan tahun lalu saya kenal seorang gadis warga negara Amerika. Namanya Christine Bradford, masih berstatus mahasiswa di Oxford, dan tinggal bersama orangtuanya di kawasan Beverly Hills. Dia sedang liburan di Pulau Lombok, setelah sepekan sebelumnya menetap di Pulau Bali.

Perkenalan itu tak direncanakan. Ketika menginap di sebuah cottage di Kota Mataram, saat makan siang di resto saya kehabisan meja kosong. Ada meja dengan sisa tempat duduk, tapi itu sudah dibuking cewek bule ini. Karena terpaksa, akhirnya saya minta ijin untuk menempati salahsatu kursinya. Dia membolehkan.

Dari pertemuan tak sengaja itu akhirnya kami jadi akrab. Dia tanya banyak tentang pariwisata Pulau Lombok, juga tujuan perjalanan saya di Pulau Cidomo itu. Ketika tahu saya akan ke Bayan, sebuah desa di Senaru yang dikenal sebagai pusat 'sekte' Islam Wetu Telu sebelum meneruskan langkah mendaki Gunung Rinjani, gadis ini tertarik. Ia ingin ikut.

Hanya, katanya, dia butuh waktu sehari untuk persiapan. Pagi dia akan terbang ke Bali untuk mengambil sepatu gunung yang ditinggal di kamar hotelnya, dan dia janji siangnya sudah sampai kembali di Kota Mataram. "Jangan ditinggal. Saya menyesal nanti kalau sampai tidak ke Bayan dan gagal mendaki Gunung Rinjani," pesannya.

Setelah Christine kembali ke Kota Mataram dengan sepatu gunungnya, maka kami mendaftarkan diri ke Pusat Pelestarian Alam (PPA) NTB. Saat itu saya tanya, apa dia sudah berpengalaman mendaki gunung? Jawabnya, dia belum pernah naik gunung, tapi pernah ikut panjat dinding di kampusnya.

Mendengar jawaban itu hati saya agak tenang. Entah kenapa, egoisme ini tiba-tiba hadir. Pikir saya, kalau cewek bule ini tidak pengalaman, maka sebanding. Saya tidak perlu malu kalau nanti sering mengajaknya istirahat. Maklum, saya bukan pendaki gunung profesional. Hanya karena status saya sebagai wartawan majalah pariwisata dan budaya The Archipelago, maka saya sering mendapat tugas 'yang aneh-aneh' macam ini.

Esok hari, setelah saya dan Chistine siap dengan bekal masing-masing, kami berangkat melalui jalan darat. Naik angkutan umum menuju Desa Bayan, yang setibanya di desa adat itu, kami disambut Raden Singadriya, tetua adat setempat. Di desa yang sejuk, asri, dan indah ini, berhari-hari kami ngobrol tak tentu arah. Kami lupa, bahwa Desa Bayan hanyalah persinggahan sementara, sebelum meneruskan langkah mendaki Rinjani.

Suatu malam, ketika asyik jagongan, ada seorang tamu tak dikenal ikut nimbrung. Tamu itu ingin ketemu saya, hendak menyampaikan sesuatu. Dia tanya kapan saya mendaki Rinjani, dan berapa hari di atas gunung itu. Saya yang memang tidak punya program waktu, menjawab dengan jujur. "Berangkat bisa satu atau dua hari lagi, dan di Segara Anak (Rinjani), mungkin seminggu atau dua minggu, pak."

Mendengar jawaban itu, tamu ini menimpali. "Wah kalau bisa tolong dipastikan harinya, mas. Kami sudah sediakan segala keperluannya sejak pekan kemarin. Dari kompor gas, beras, air minum, alat pancing, juga roti. Tapi kalau sampai lama-lama, pasukan saya bisa kesedot di kawasan ini semua."

"Loh kok pasukan. Apa bapak tentara? Terus untuk apa itu pak?" tanya saya memancing. Apa jawabnya? "Yah saya anggota Koramil daerah sini. Saya dikontak Dinas Pariwisata Lombok untuk pengamanan. Sudah sepekan ini petugas pariwisata dan anggota saya berada di Senaru, Puncak Sangkareang, dan juga di Segara Anakan. Saya diperintahkan atasan, karena yang mas ajak itu warganegara Amerika."

Masyaallah, hanya gara-gara mengajak gadis Amerika naik gunung, saya telah menyengsarakan banyak orang.

Pengalaman di atas merupakan bumi dan langit dengan perlakuan negeri ini terhadap warga negaranya sendiri. Yanti Iriyanti dan Karsih binti Ocim Parni hanyalah dua dari ratusan atau ribuan lagi warga senasib yang tak terlindungi. Tragisnya, perwakilan kita di negeri-negeri itu juga ada yang tidak tahu dan tidak mau tahu.

Kalau boleh bertanya, sebenarnya ada apa dengan bangsa dan negara ini?

Keterangan Penulis:
Djoko Su'ud Sukahar, pemerhati budaya, tinggal di Jakarta. Alamat e-mail jok5000@yahoo.com. (djo/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads