Inilah yang dirasakan para pengguna lahan parkir di Menara Jamsostek. Mereka mengeluhkan dalam surat elektroniknya yang diterima detikcom, Rabu (23/1/2008).
Seperti yang diungkapkan Wahyu, salah satu karyawan di Menara Jamsostek, North Tower.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia menyatakan, bagi pengendara yang tidak familiar, rute parkir gedung ini agak membingungkan. Penuh jalur naik turun yang berujung dengan tikungan tajam dua arah tanpa ada kanstin atau pemisah jalur.
Jarak pandang di tikungan sangat terbatas karena ada tembok, hanya dibantu cermin yang lokasi penempatannya malah membuat kagok pengendara.
Selain itu, pagar di gedung parkir, hanya terdiri dari rangkaian besi yang dilas membentuk pagar dengan tinggi sekitar 90 centimeter.
"Yang mengherankan, walaupun pagar ini berdiri di antara dua kolom, tapi tidak ada ikatan atau hubungan antara pagar dan kolom," ujarnya.
Sehingga kekuatan pagar hanya dari kekuatan las-lasan konstruksi pagar dan ikatan dynabolt ke beton. Hal ini riskan karena jika ditabrak mobil.
"Yang perlu diingat, kecepatan mobil di gedung parkir ini lumayan kencang, karena dominannya jalur turun dan naik," ungkapnya.
Bahkan jika ada kasus tertentu, misalnya rem blong atau slip karena air hujan dan oli, maka kecepatan mobil bisa mencapai 20-30 kilometer per jam. "Tentunya akan susah untuk ditahan oleh konstruksi pagar baja itu," ujarnya.
Idealnya kata Wahyu, pagar baja diganti pagar beton dan bukan pagar bata ataupun batako.
Hal yang sama juga diungkapkan Pangestu. Namun dia lebih menitikberatkan pada stoper atau bantalan beton penahan di tempat parkir.
"Saya pernah parkir dan hanya ada satu stoper untuk satu mobil. Biasanya kan harus dua atau malah yang memanjang sekalian," ungkapnya.
Minim dan jauhnya jarak antara satu stoper dengan stoper lainnya ini yang sangat membahayakan. "Bagaimana kalau ban mobil tidak tepat mengenai stoper. Ini berbahaya karena mobil bisa lolos," ujarnya.
(mar/nrl)










































