50 Juta Kendaraan Bermotor Bakal Padati Jalanan Indonesia

50 Juta Kendaraan Bermotor Bakal Padati Jalanan Indonesia

- detikNews
Selasa, 22 Jan 2008 16:45 WIB
Jakarta - Jalanan di sejumlah kota besar di Indonesia akan terus dipadati kendaraan bermotor. Pada tahun 2008, kendaraan di Indonesia diprediksi bakal bertambah 5 juta unit, hingga berjumlah 50 juta. Ck..ck..ck..

"Populasi kendaraan akan meningkat dari sekitar 45 juta unit di tahun 2007, menjadi 50 juta di tahun 2008," kata koordinator Forum Keselamatan Transportasi dari Masyarakat Transportasi Indonesia (MTI) Heru Sutomo.

Hal itu dia sampaikan dalam jumpa pers bertajuk 'Transportation Outlook 2008' di Hotel Kartika Chandra, Jl Gatot Subroto, Jakarta Selatan, Selasa (22/1/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut Heru, bertambahnya jumlah kendaraan itu juga akan diikuti meningkatnya jumlah perjalanan. Peningkatan itu berjumlah 10 persen dari 3,8 miliar perjalanan yang dilakukan penduduk Indonesia. Angka kecelakaan pun meningkat 10 persen dari 1 juta kecelakaan yang terjadi selama 2007.

"Dari jumlah kecelakaan itu, 75 persen kecelakaan melibatkan sepeda motor. Dengan populasi sepeda motor sekitar 35 juta, praktis dari merekalah sebagian korban akan berjatuhan," jelasnya.

Menurut Heru, meningkatnya angka kecelakaan sepeda motor disebabkan karena tingginya kecepatan kendaraan.

"Meski penggunaan helm membaik, namun tingginya kecepatan akan berakibat tingginya angka fatalitas (kematian) dan luka berat," ujar Heru.

Sementara korban kecelakaan dari pengguna kendaraan roda empat masih bisa ditekan karena penggunaan sabuk keselamatan.

Heru menjelaskan, angka kecelakaan juga masih tinggi di sektor angkutan umum, baik penumpang maupun barang. Hal ini disebabkan mutu armada yang telah berusia tua dan belum efektifnya sistem pengujian kelaikan kendaraan.

Prediksi yang dirilis MTI itu berdasarkan data jumlah kendaraan, perjalanan, maupun kecelakaan dari Asian Development Bank (ADB) pada tahun 2004, yang dimuat dalam buku berjudul 'Arrive Alive'. Namun data itu dipandang masih relevan. Dalam prediksinya, dia juga memasukkan faktor pertumbuhan ekonomi, kenaikan harga BBM, kerusakan ekologi dan persaingan usaha.
(fiq/sss)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini