Apalagi hingga hari kesembilan belas sakitnya, hanya satu foto yang menunjukkan kondisi Soeharto di RSPP awal tahun ini, yang muncul di media massa. Foto memperlihatkan Soeharto terbaring, hidungnya dipasangi selang. Pipinya tembem dengan kening berkerut-kerut. Mulutnya setengah terbuka. Matanya melek, tapi wajahnya seperti orang yang tidak sadar. Selimut warna hijau menutupi tubuhnya yang terbungkus baju biru seragam RS. Setelah itu tidak ada lagi foto, tidak ada lagi gambar. Padahal foto atau gambar bisa lebih berbicara daripada seribu kata-kata.
Selanjutnya kondisi Soeharto hanya bersumber pada katanya-katanya. Kata tim dokter kepresidenan, kata Moerdiono, kata pengacara dan kata tamu yang datang membesuk. Kondisi Soeharto terbaru memang di-update tim dokter kepresidenan lewat konferensi pers. Tapi apa yang disampaikan saban pagi itu kini sudah terdengar datar. Terasa membosankan. Membaik, memburuk, membaik, memburuk, demikian diulang-ulang. Begitu pula yang disampaikan lewat mulut Moerdiono. Mantan Mensesneg ini sudah seperti Juru Bicara keluarga Cendana saja. Tapi apa yang disampaikan Pak Moer ini pun tidak lebih dari mengulang pernyataan tim dokter. Sementara nyaris semua keluarga Cendana memilih bungkam seribu bahasa.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Apakah kondisi Soeharto memang sengaja dibuat misterius? Banyak pemimpin dunia bertangan besi yang sengaja memilih meninggal dalam kemisteriusan. Josip Broz Tito, Stalin, Lenin, Mao Tse Tung, membangun mitos atas dirinya lewat fotonya dalam kondisi kuat, senyum simpul dan mata sayu yang berwibawa. Mereka tidak mau terlihat lemah. Soeharto mungkin ingin dikenang seperti mereka, para pemimpin bertangan besi tersebut.
(Ari/iy)











































