"Intelektual muslim yang baik tidak hanya menyampaikan pemikiran dan pendapatnya, namun ia harus bersedia mendengar pemikiran dan kritik pihak lain," kata Menteri Agama Maftuh Basyuni.
Maftuh menyampaikan pernyataan ini dalam seminar nasional bertema 'Membaca ulang orientasi pemikiran intelektual UIN' di Aula UIN Syarif Hidayatullah, Ciputat, Tangerang, Banten, Selasa (22/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Setiap mukmin harus bersedia mengambil bagian dalam proses saling menasihati perihal kebenaran dan saling menasihati perihal kesabaran," ujar dia.
Maftuh menjelaskan, pemikiran keagamaan yang dikemukakan ulama dan intelektual muslim semestinya mencerahkan umat dalam memahami dan mengamalkan ajaran agama.
Pengetahuan mereka, lanjut Maftuh, membawa dampak pada pencapaian kualitas kehidupan rohani atau spiritual yang semakin tinggi.
"Ucapan dan tindakan kaum intelektual muslim semestinya membawa dampak yang positif bagi umat maupun warga masyarakat pada umumnya," imbuh dia.
Maftuh mengatakan, dengan pengetahuan yang dimiliki ulama dan intelektual muslim menjadi penuntun dan pembimbing umat.
"Jika kemudian hari ada orang yang dipersepsi sebagai intelektual muslim, lalu mempunyai pemikiran atau pemahaman keagamaan yang membingungkan umat, meresahkan atau menyebabkan pendangkalan akidah, maka hal itu perlu dikaji," pungkas dia. (mly/sss)











































