"Akhirnya demo pilkada tidak ada lagi. Mudah-mudahan seterusnya tidak ada. Karena yang kena susah kalau ada demo malah kami-kami ini," ujar Idrus, salah seorang sopir pete-pete jurusan Pasal Sentral-Daya kepada detikcom di Makassar, Sulsel, Senin (21/1/2007).
Idrus mengatakan, kalau sebulan terakhir ini penghasilannya surut karena demo. "Waktu ramai demo, penghasilan hanya untuk bayar setoran. Kalaupun ada lebihnya, paling habis untuk makan dan rokok," keluhnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Bukan hanya Idrus, Daeng Saraila juga mengaku mengalami hal yang sama. "Enak kalau lancar seperti sekarang. Kalau ada demo, bawaannya selalu mau marah. Sudah panas, macet, kadang juga pengunjuk rasa membentak-bentak kita. Memangnya hanya dia yang punya jalan. Kami ini juga mau hidup," cetusnya kesal.
Sarailan pun meminta agar demo pilkada dihentikan. "Kita jadi was-was. Toko-toko juga banyak yang tutup. Kadang kita tidak mau keluar, tapi mau makan apa," ucapnya.
Namun Sarailan mengaku kalau pete-petenya pernah disewa oleh para pengunjuk rasa beberapa hari yang lalu. "Bayarannya lumayan bagus. Tapi mereka naik sampai ke atap. Kalau nanti ada yang mau booking lagi, saya sudah tidak mau," ceritanya. (gun/sss)











































