Bukan Kencan Biasa

Berburu Jodoh Ala Eksekutif(2)

Bukan Kencan Biasa

- detikNews
Senin, 21 Jan 2008 12:02 WIB
Jakarta - Wajah cantik dan tampan serta berpenghasilan mapan, ternyata bukan jaminan mudah mendapat jodoh. Rutinitas kerja  yang begitu tinggi membuat kalangan eksekutif muda (esmud), kebanyakan luput memikirkan pendamping hidup. Para jomblo kalangan esmud ini dikenal dengan sebutan high quality jomblo atau jomblo tingkat tinggi.

Alasan para njomblo para esmud ini beragam. Karena terlalu hati-hati, sibuk kerja, atau memang belum ingin direpotkan soal rumah tangga. Sekalipun terkesan gaul dan komunikatif, banyak di antara mereka terlihat hampa," kata Ridho Tan Andrea, enterpreneur muda asal Jakarta.

Tapi kehampaan sejumlah esmud justru dianggap peluang oleh Ridho. Ia kemudian mendirikan sebuah komunitas bagi jomblo berkantong tebal. Komunitas yang dibentuk empat tahun lalu itu, diberi nama Single Executive Club (SEC).

Ide Ridho ini rupanya banyak mendapat respon. Anggotanya hingga sekarang berjumlah 700 orang, Mereka umumnya berdomisili di Jakarta. Sisanya, ada yang berasal dari kota-kota lain di Indonesia, juga berasal dari negara jiran Singapura dan Malaysia. Jadi anggotanya bisa dari mana saja.

Untuk penjaringan anggota, SEC hanya membatasi usia member antara 20 hingga 40 tahun. Selain itu,  calon harus mengikuti beberapa kriteria lain, misalnya harus melalui wawancara terlebih dahulu. Sesi wawancara ini, kata Ridho, untuk mengetahui keseriusan member bergabung dengan SEC. Sebab SEC memang dikhususkan untuk kalangan esmud yang masih jomblo.

Syaratnya lain yang ditetapkan, yakni  harus single, harus berijazah minimal sarjana strata satu, dan  harus membayar 200 U$ dollar atau sekitar Rp 1,9 juta pada tahun pertama. Harga yang cukup mahal bukan? Tapi Ridho punya alasan sendiri dengan besarnya iuran tersebut. "Ini nantinya menyangkut uang dan cinta," ujar pria berambut klimis tersebut.

Reputasi dan gengsi. Itulah yang ingin disuguhkan SEC kepada para membernya. Tak heran bila pengelola SEC begitu hati-hati dalam menjaring anggota. Karena SEC berupaya mencomblangi para jomblo sesuai dengan kriteria mereka. Setidaknya, bibit-bebet-bobot dari calon pasangan bisa diketahui sebelum mereka saling mengenal lebih jauh.

Untuk saling mengakrabkan diri, SEC menggelar berbagai event, mulai dari party, date, dinner, sport sampai ke arah charity. Kegiatan ini dilaksanakan setiap satu bulan sekali. Dalam setiap acara para member dikenai biaya partisipasi yang besarnya tergantung acara yang diselenggarakan. Untuk dinner misalnya, para member dikenai biaya partisipasi Rp 200 ribu sampai Rp 300 ribu. Kalau party biayanya lebih tinggi lagi bisa di atas Rp 1 juta.

Acara-acara yang digelar bertujuan  mencari kesukaan antar sesama member. Misalnya jika ada acara nonton maka yang datang adalah member-member yang suka nonton. Nantinya mereka  bisa bertukar cerita dan pengetahuan mengenai hobi mereka tersebut.

Sekalipun klub yang dibesut Ridho sebagai bisnis mak comblang, bukan berarti ia punya target untuk menikahkan para membernya. “ Kita tidakpunya target  member harus menikah ketika dipertemukan dengan member lainnya. Semuanya biar mengalir. Kalau masing-masing oke, silkan” jelas pria kelahiran Kalimantan tersebut.

Yang jadi target Ridho, para member bisa merasa bahagia. Jadi kalau memang mereka merasa cocok satu sama lain ya silakan menikah. Sebab kadangkala orang akan merasa bahagia sekalipun tidak harus menikah. Setidaknya, dengan bergabung dengan klub ini, para anggota bisa merasakan bahwa ngejomblo itu  bukannya susah, sengsara dan menderita.

Wajar bila Ridho menolak jika klub yang didirikannya itu dikatakan sebagai biro jodoh pada umumnya. Sebab di komunitas ini tidak semata-mata mencari jodoh. Sebab banyak juga anggota memanfaatkan komunitas ini untuk memperluas jaringan bisnis."Jadi selain mencari jodoh, mereka bisa mengeksploitasi diri dengan bergaul dengan teman-teman yang berkualitas," begitu kata Ridho sedikit berpromosi. (ddg/iy)


Berita Terkait