Mau Jodoh, Yang Datang Musibah

Berburu Jodoh Ala Eksekutif(1)

Mau Jodoh, Yang Datang Musibah

- detikNews
Senin, 21 Jan 2008 10:28 WIB
Jakarta - Sri Wulandari selalu senang bila di depan komputer. Ia sering lupa waktu dibuatnya. Maklum ia sedang kasmaran dengan teman kencannya yang ada di dunia maya yang ia kenal melalui sebuah situs biro jodoh. Tapi itu dahulu. Sekarang ia mulai membatasi diri bermain komputer atau internetan. Paling-paling sekarang ia hanya menggunakannya sebatas urusan kerja.

Perubahan drastis Rinda, panggilan akrab Wulandari, lantaran ia kecewa dengan teman kencannya itu. Soalnya, teman kencan yang ia kenal melalui chatting itu ternyata buaya darat. Akhirnya, niatnya mencari jodoh kandas. Ia pun merugi puluhan juta rupiah.

Rinda ini mengaku sering chatting melalui internet dengan harapan bisa mendapatkan jodoh. Sebab usianya kini sudah menginjak 36 tahun, dan ia belum juga punya tambatan hati. Padahal, kariernya di perusahaan boleh dibilang lumayan sukses.

Rinda bukannya tidak pernah berusaha mencari jodoh. Hanya saja, ia tidak punya banyak waktu untuk mencarinya. Untuk itu ikhtiar yang dilakukan hanya sebatas berselancar di internet. Beberapa situs biro jodoh selalu di klik olehnya. Hingga suatu ketika ia berkenalan dengan seorang pria bernama Teddy Rendrawan yang mengaku sebagai kepala bagian di sebuah departemen.

Di dalam situs tersebut, Teddy mengaku sedang mencari teman untuk hubungan serius alias dinikahi. Inilah yang membuat Rinda tertarik. Sebab, di mata Rinda, Teddy sudah berusia mapan dan ingin menjalin hubungan serius, seperti dirinya. Apalagi jabatan Teddy bisa dibilang cukup lumayan. Perkenalan pun terjadi. Sejak saat itu Rinda dan Teddy sering berkomunikasi, baik lewat chatting maupun telepon.

Sayangnya, setelah berbulan-bulan komunikasi, Teddy kemudian menghilang. Hingga pada 21 Desember 2007, Rinda pergi ke Surabaya bersama beberapa rekannya untuk urusan bisnis. Di kota pahlawan ini tiba-tiba ia ditelepon Teddy yang mengaku sedang berada di Malang. Akhirnya ia pun janjian dengan Teddy di Malang. "Saya dijemput Teddy pakai Honda Jazz merah, dan diajak ke vila, tapi saya tolak soalnya saya sudah booking hotel," kata Rinda kepada seorang penyidik Polda Metro Jaya.

Saat bertemu, Rinda langsung akrab dengan Teddy. Maklum sebelumnya ia memang sudah sering ngobrol. Pembicaraan-pembicaraan pun mengalir begitu saja. Berbagai cerita pun terlontar dari mulut mereka. Mulai urusan pergaulan, bisnis, keluarga hingga masalah pribadi dibahas. Hal itulah yang membuat Rinda merasa semakin dekat dengan pria tersebut.

Di sela-sela perbincangan Teddy kemudian menuturkan seputar kasus yang menimpa atasannya. Ia bercerita kalau atasanya sedang mengalami masalah keuangan. Sebagai anak buah yang loyal dan solider, Teddy mengaku berusaha ingin membantu atasannya itu. Akhirnya Teddy mengatakan ingin meminjam uang kepada Rinda.

Entah kenapa, perempuan itu menyanggupi keinginan Teddy."Saya seperti dihipnotis," kata Rinda. Hasilnya uang yang ada di ATM dan kartu kreditnya dikuras Teddy. Bukan itu saja beberapa perhiasan dan telepon genggam, juga disikat pria tersebut. Kalau ditotal-total, kerugian yang diderita Rinda mencapai Rp 30 juta rupiah.

Ia baru sadar kalau tertipu setelah Teddy yang berjanji akan datang ke bandara. Sebab ia mau sama-sama berangkat ke Jakarta. Tapi menjelang pesawat take off, Teddy tidak kelihatan batang hidungnya. Akhirnya Rinda terbang ke Jakarta dengan rasa kecewa. Hatinya hancur dan uangnya pun ludes dikuras Teddy.

M. Sudarto, salah seorang pengasuh biro jodoh di sebuah surat kabar nasional, mengatakan, mencari jodoh melalui biro jodoh yang ada di dunia maya memang punya risiko. Untuk itu, ia seringkali meminta para anggota biro jodoh yang dikelolanya berhati-hati, terutama bila ingin bertemu atau ngedate. Sebab bisa saja salah satu pihak ada yang punya niat tidak baik.

Mengenai rubrik biro jodoh yang diasuhnya, Sudarto mengaku hanya sebatas memfasilitasi saja. Kalau soal kredibilitas itu urusan masing-masing anggota untuk menelitinya. "Kita tidak menyelidiki soal prilaku para anggota kontak jodoh di media kami," jelas Sudarto.

Kasus paling anyar menimpa perempuan berinisial Fhy, yang tinggal di Bekasi, Jawa Barat. Perempuan berparas cantik ini menjadi korban perkosaan akhir Desember 2007. Pelakunya adalah Ferry, seorang pengusaha sablon yang tinggal di Perumahan Pepabri, Cipondoh, Tangerang.

Perkenalan Fhy dengan Ferry juga melalui situs biro jodoh. Awalnya ia berkenalan dan chatting di dunia Maya. Setelah lama mengenal melalui chatting, keduanya sepakat untuk bertemu. Kopi darat di daerah Ciledug, Tangerang, 25 desember 2007.

Tapi setelah bertemu tiba-tiba Ferry mengajak gadis asal Bandung itu ke rumahnya. Ia beralasan agar bisa ngobrol bebas. Bejatnya, setelah masuk ke rumah, Ferry mengunci pintu dan memperkosa Fhy. Tidak itu saja, pria beranak satu tersebut juga memukuli korban hingga babak belur.

Puas melakukan aksi amoralnya, pria berusia 40 tahun tersebut kemudian membuang gadis yang tidak berdaya itu di Perumahan Regency, Tangerang. Setelah sadar, ia pun melaporkan kejadiaan yang menimpa dirinya ke Polsek Cipondoh Tangerang.

Untung saja telepon genggam gadis itu tidak raib. Sebab dari komunikasi melalui pesan singkat (SMS), keberadaan Ferry bisa dilacak.β€œ Tersangka telah kami tahan setelah mendapatkan cukup bukti yang dilihat dari SMS yang ada handphone Fhy," kata Kapolsek Cipondoh, AKP Sukarna.

Kini Ferry yang mata keranjang itu harus meringkuk di dalam penjara. Ia dikenai pasal 285 dan pasal 351 KUHP, dengan maksimal hukuman 7 tahun penjara. (ddg/iy)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads