Diblokade Israel, Rakyat Gaza Miskin, Kedinginan & Lapar

Diblokade Israel, Rakyat Gaza Miskin, Kedinginan & Lapar

- detikNews
Senin, 21 Jan 2008 01:51 WIB
Gaza City - Bagi Safiya al-Amarin, tindakan Israel memerangi militan Palestina di Gaza berarti hari-hari menahan lapar dan dingin, dan malam tanpa istirahat karena terganggu bunyi letupan senapan, ledakan dan suara helikopter. Dan semua itu dimulai saat Israel memperketat blokade.

Mulai Minggu (20/1/2008) malam ini, hari-hari Safiya dan anak-anaknya semakin penuh derita: satu-satunya pembangkit listrik di Gaza tidak bisa beroperasi karena kehabisan bahan bakar.

"Kami tak punya listrik, tak ada gas untuk memasak. Juga tak ada satu pun lilin dan tak ada kayu untuk memasak karena blokade," ungkap Safiya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Saya tak pernah mengalami yang seperti ini sebelumnya," ujar Safiya kepada AFP, Minggu (20/1/2008).

Kesengsaraan rakyat Palestina ini tak dihiraukan kabinet Israel yang pada Minggu siang memutuskan untuk memperpanjang blokade 3 hari atas wilayah yang dikuasai Hamas itu. Perpanjangan ini, bagi keluarga Amarin, tak ubahnya menghukum mereka untuk terus berada dalam kemiskinan.

Suami Safiya, Fayez (57), kehilangan pekerjaan di Israel sejak 7 tahun lalu, ketika perlawanan terhadap pendudukan Negeri Zionis itu meningkat. Fayez pun sekarang mengandalkan hidup dari memungut sampah plastik dan logam untuk didaur ulang.

Fayez bersama dua istrinya dan 17 anak-anak mereka menetap di sebuah bangunan tiga lantai yang belum selesai di pinggir Kota Gaza. Bangunan rumah mereka tak pernah selesai karena bahan bangunan sulit dicari sejak berbulan-bulan lalu.

Fajar menyingsing, keluarga Amarin ini sudah beraktivitas. "Kami selalu pergi sekolah tanpa sarapan dan tanpa uang untuk membeli makan siang," kata anak perempuan Safiya, Safaa (11).

Anak-anak yang lebih tua langsung menuju tempat pembuangan sampah, memilah-milah besi dan plastik. Jika beruntung, dalam sehari mereka bisa mendapatkan uang 3 dolar dari menjual barang hasil pulungan itu.

Ketika matahari tenggelam, rumah mereka pun gelap, membeku seiring musim dingin yang menusuk di Jalur Gaza. Tujuh orang tidur dalam satu kamar, tanpa listrik, tanpa pemanas ruangan.

"Kami memakaikan semua pakaian yang kami punya pada anak-anak. Beberapa di antara mereka memakai 6 lapis. Saya memeluk mereka erat-erat saat tidur supaya hangat," kata Safiya.

Suatu waktu, di bulan Mei 2007, ketika sekeluarga itu tidur, Israel melancarkan serangan ke kawasan tempat tinggal mereka. "Kami saat itu sedang tidur dan kami mendengar letupan senapan, helikopter terbang di atas rumah," kata Safiya. "Anak-anak terbangun dan ketakutan. Mereka semua ingin saya memeluk mereka, tapi saya juga ketakutan," kata Safiya.

Sejak itu, sudah 36 orang Gaza tewas oleh tentara Israel, sementara militan Hamas telah meluncurkan 200 proyektil roket ke kawasan Israel.

Dan keluar Amarin pun bertahan dalam kemiskinan, kelaparan, kedinginan dan ketakutannya. (aba/bal)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait