Para jamaah haji maupun petugas PPIH di Arab Saudi mengeluhkan hal tersebut. Berkali-kali berusaha menghubungi petugas yang mengambil barang, sama sekali tidak mendapat jawaban yang pasti tentang posisi barang maupun kepastian kapan barang-barang kiriman akan tiba di alamat tujuan sesuai perjanjian.
Ali, petugas PPIH di Daker Madinah misalnya, tidak mampu menutupi kekesalannya. Sejak tanggal 3 Januari lalu, dia memercayakan pegiriman barang-barangnya kepada Kargo Almunief. Saat itu dijanjikan 7 hingga 10 hari setelah pengambilan, barang-barang itu telah akan tiba di rumah Ali di Bandung.
“Nyatanya hingga saat ini kami barang-barang itu belum tiba di rumah saya. Berkali-kali saya berusaha menghubungi petugas Kargo Almunief yang mengambil barang-barang itu, tapi tak sekalipun diangkat. Saya sangat kecewa pelayanan pada Almunief. Padahal saya membayar mahal untuk itu, SAR 9 per kilonya,” papar Ali, Sabtu (19/1/2008) malam WAS.
Ali pantas kecewa karena barang-barang yang dikirim adalah oleh-oleh haji yang hendak dibagi-bagikan kepada sanak saudaranya. Dia berinisiatif mengirimkan barang itu lewat kargo dengan maksud agar lebih dulu tiba di rumah agar istrinya berkesempatan menata dan membungkusi barang-barang itu sebelum dibagi-bagikan.
“Almunief tidak bertanggungjawab pada janjinya. Kalau begini nanti saya sudah sampai di rumah, tapi barang-barang itu belum juga sampai. Kami akan kebingungan ketika sanak saudara datang ke rumah untuk bersilaturahmi. Oleh-oleh haji bagi kerabat sudah mentradisi, kalau tidak ada rasanya ada yang kurang,” lanjutnya.
“Saya mempertimbangkan menempuh jalur hukum jika barang-barang itu tidak segera sampai di rumah hingga batas waktu yang bisa saya toleransi, karena barang-barang yang saya kirimkan cukup berharga. Lagipula Almunief telah kami menyepelekan saya dengan mengingkari kesanggupannya sendiri,” ujar seorang petugas haji lainnya tanpa menyebutkan batas toleransi yang diberikannya.
Hal serupa juga dialami Fathoni, jamaah haji asal embarkasi Solo. Jamaah asal Sukoharjo itu telah dua pekan lalu tiba di Tanah Air, namun hingga sekarang kargo yang dikirimnya ketika masih berada di Makkah hingga saat ini belum juga tiba.
Padahal, barang-barang yang dikirim via kargo itu juga berupa oleh-oleh yang seharusnya segera dibagikan sesampainya di rumah. “Saya sangat kecewa dengan pelayanan Almunief Garuda. Terpaksa kami beli lagi barang-barang seadanya di Solo, yang penting kerabat yang datang menjenguk kami bisa pulang bawa oleh-oleh,” ujarnya.
Selain Ali dan Fathoni, masih banyak lagi jamaah maupun petugas PPIH yang mengeluhkan pelayanan Almunief. Mereka mengaku memercayakan pengiriman barang-barangnya melaui Kargo Almunief karena perusahaan itu adalah rekanan resmi Garuda di Arab Saudi dengan harapan bisa dipercaya kredibilitas dan pelayanannya.
Pada tanda terima barang jelas tertera logo Garuda maupun Almunief lengkap dengan alamat kantor serta rincian barang yang dikirimkan. Menurut Ali, petugas yang mengambil barang-barang juga mengenakan seragam Garuda dan dengan mantap meyakinkan barang-barang itu akan tiba di alamat tujuan paling lambat 10 hari.
Namun ketika berkali-kali detikcom mencoba menghubungi nomor telepon yang tertera, sama sekali tidak pernah ada respon. Beberapa kali detikcom juga menghubungi Ipan Suryana, petugas Almunief yang mengambil barang-barang milik Ali.
Pertama kali dihubungi ponselnya, Ipan beralasan keterlambatan karena barang-barang harus antri keluar dari gudang. Namun pada kesempatan lain itu, Ipan tidak pernah mau lagi mengangkat ponselnya saat dihubungi lagi.
(mbr/gah)










































