Jadi 'Cowok', Haid Tak Teratur? Awas Kena SOPK!

Jadi 'Cowok', Haid Tak Teratur? Awas Kena SOPK!

- detikNews
Sabtu, 19 Jan 2008 09:14 WIB
Jakarta - Jika Anda perempuan mendapati rambut tumbuh lebih banyak di atas mulut atau di dada, berat badan bertambah, dan haid tak teratur. Waspadalah, jangan-jangan Anda mengalami sindrom ovarium poli kistik (SOPK).

"SOPK itu sindrom gangguan haid. Kalau di ultra sono grafi (USG) wanita itu tiap bulan menghasilkan telur. Tiap satu bulan ada satu telur yang besar. Lah ini kalau dilihat nggak ada yang besar. Seperti mutiara itu kecil-kecil, telurnya nggak bisa matang. Karena itu disebut ovarium polikistik," kata Kepala Program Bayi Tabung Klinik Yasmin dr Muharram, SpOG.

Hal itu disampaikannya dalam dalam peluncuran Klinik Yasmin sebagai pusat layanan terpadu gangguan haid dan kesuburan di Klinik Yasmin, Paviliun Cendrawasih, RS Cipto Mangunkusumo , Jl Diponegoro, Jakarta, Jumat (18/1/2008).

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Gejalanya, imbuh Muharram, sifat kelaki-lakian pada perempuan meningkat seperti tumbuh kumis, tumbuh rambut di dada. Timbul jerawat karena gangguan metabolisme lemak, berat badan bertambah dan siklus haid tidak teratur.

Tidak teraturnya haid, lanjut Muharram, siklus haidnya menjadi lama dari normalnya 21-35 hari menjadi 40 hari. Jika datang haid, kurang dari tiga hari, selebihnya hanya berupa flek-flek coklat saja.

"Itu berarti keseimbangan hormon progesteron dan estrogen terganggu. Jika flek banyak sebelum haid berarti kekurangan hormon progesteron (hormon yang meluruhkan dinding rahim jika tidak dibuahi). Jika flek banyak setelah haid berarti kekurangan hormon estrogen (hormon yang menimbulkan sifat feminin pada wanita dan membentuk dinding rahim)," ujar dia.

Tidak hanya hormon estrogen dan progesteron yang terganggu, tumbuhnya ciri-ciri maskulin sekunder seperti kumis dan bulu dada menunjukkan hormon androgen (hormon pria yang ada dalam perempuan) juga mengalami gangguan. Gangguan hormon itu bisa karena insulin (hormon yang mengatur kadar gula dalam darah) resisten ataupun gangguan ginjal (tempat dihasilkannya hormon androgen).

Resiko jangka panjangnya, imbuh Muharram, meningkatkan resiko antara lain, ketidaksuburan, diabetes mellitus, penyakit jantung, hingga penebalan lapisan dinding rahim yang bisa menyebabkan kanker rahim.

"Kalau SOPK itu sebabnya lifestylenya. Suka makan junk food, malas berolah raga," tutur Muharram.

Faktor genetik juga berperan menyebabkan SOPK. Karena itu untuk mengantisipasinya, turunkan berat badan sampai normal dan diet seimbang.

"Nanti androgennya bisa turun dengan olah raga dan diet. Kalau dia sudah nikah kita bisa picu produksi telur dengan obat-obatan, untuk mengatur haidnya, jangan sampai androgennya naik," ujar dia.
(nwk/ary)


Berita Terkait