Data itu dari Klinik Yasmin, RS Cipto Mangunkusumo (RSCM) selama tahun 2007.
"Makanya jangan sombong laki-laki. 55 Persen infertilitas itu pada faktor prianya. Masalahnya pada produksi atau distribusi sperma," ujar Kepala Program Bayi Tabung Klinik Yasmin dr Muharram, SpOG , dalam peluncuran Klinik Yasmin sebagai pusat layanan terpadu gangguan haid dan kesuburan, di Paviliun Cendrawasih, RSCM, Jl Diponegoro, Jakarta, Jumat (18/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hal itu bisa disebabkan karena adanya gangguan hormon testosteron yang menurun atau karena adanya penyakit seperti varises pada buah zakar dan penyakit lain, yang bisa berpangkal pada masalah psikososial atau gaya hidup.
"Bisa kita lihat cairan spermanya, apakah azoospermal atau tidak sama sekali mengandung sperma. Kalau cuma airnya doang nggak ada benihnya, itu cepat-cepat harus diberikan terapi," ujar dia.
Sementara Kepala Klinik Yasmin dr Andon Hestiantoro, SpOG mengatakan normalnya produksi sperma per cc mencapai 20 juta. Dalam 1 siklus, tiap 2 atau 3 hari, lanjutnya laki-laki normalnya mengeluarkan sperma hingga 3 cc sehingga total sperma yang dikeluarkan 60 juta.
"Jumlah sperma harus cukup. Setelah itu baru dilihat kemampuan renang spermanya. Yang bagus lurus dan cepat, bukannya lurus tapi lambat. Dilihat juga bentuk kepala spermanya, yang bagus seperti kecebong," ujarnya.
Wanita Lebih Kompleks
Jika infertilitas pada laki-laki berpangkal pada masalah produksi dan distribusi, pada perempuan masalah infertilitas lebih kompleks. Data pada Klinik Yasmin, selain 55 persen infertilitas pada laki-laki, sisanya infertilitas pada perempuan.
Masing-masing 15 persen infertilitas disebabkan idiopati dan endometriosis, 12 persen karena saluran sel telur atau tuba falopii terganggu, dan karena disfungsi ovulasi sekitar 3 persen.
"Kalau pada perempuan dilihat yang bermasalah seperti saluran telur, perkembangan telur, dan rahimnya apakah bentuknya normal atau tidak, ada benjolan atau tidak atau ada mioma atau adenomiomnya (tumor jinak)," ujar Andon.
Pangkalnya bisa jadi beragam, mulai dari gangguan hormon estrogen dan progesteron, yang menyebabkan gangguan siklus haid sehingga ovulasi terganggu. Penyebabnya, lanjut Andon, gangguan hormon itu bisa disebabkan masalah psikososial seperti stress karena mempunyai hubungan sosial yang tidak harmonis, hingga faktor gaya hidup seperti merokok dan makan junk food.
"Kalau di klinik ini, kita fokuskan pada terapinya dulu. Kalau bisa diusahakan mempunyai anak dengan normal, tidak perlu disarankan bayi tabung," ujar Andon.
Jika rahim ditumbuhi mioma (tumor jinak) atau adenomioma (tumor jinak yang tumbuh di otot rahim), imbuh Andon memberikan contoh, maka diusahakan mengecilkan tumor tersebut agar rahim kembali normal.
Sedangkan bayi tabung dijalankan jika semua usaha sudah tidak mempan. Sel telur perempuan dan sel sperma laki-laki pada satu pasangan diambil. Sel sperma disuntikkan ke sel telur. Setelah terjadi pembuahan, sel membelah, dan kemudian dimasukkan kembali ke dalam rahim perempuan.
Biaya program bayi tabung di Klinik Yasmin antara Rp 35 juta hingga Rp 55 juta, tergantung jenis kasusnya. Semakin muda pasangan, semakin sedikit obat-obatan yang dibutuhkan sehingga semakin murah biayanya, ketentuan sebaliknya berlaku.
"Kesuburan dianggap bermasalah kalau sudah menikah satu tahun, melakukan senggama normal 2 hingga 3 kali seminggu namun belum mempunyai anak juga. Pasangan itu harus cepat memeriksakan diri, jangan membuang waktu. Karena umur jalan terus, kalau laki-laki bisa sampai tua, kalau perempuan hamil dibatasi usia," ujar Andon.
(nwk/ary)











































