Prawiro Wiyono (76), warga yang tinggal di seberang area parkir Mangadeg, mengatakan, setelah Ibu Tien meninggal, pengunjung Astana Mangadeg berkurang drastis. Dalam beberapa bulan, makam Mangkunegoro I atau Pangeran Sambernyowo itu nyaris tidak disambangi orang sebagaimana biasanya.
"Dulu banyak ke Giribangun, terutama setelah Ibu Tien Meninggal. Sekarang tidak lagi. Pengunjung Astana Mangadeg kembali seperti semula," kata kakek yang berjualan makanan dan bunga ini, Jumat (18/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Menurut tata aturan Mangkunegaran tidak boleh ada bangunan yang lebih tinggi di sekitar Astana Mangadeg. "Jadi warga tidak menolak (pembangunan Astana Giribangun), hanya saja Mangkunegaran memang tidak mengizinkan jika ada bangunan yang lebih tinggi daripada Astana Mangadeg," jelasnya.
Warga sekitar menilai kekeramatan Astana Giribangun tidak ada apa-apanya dibanding Mangadeg. Pasalnya, Astana Mangadeg merupakan tempat pemakaman trah kraton. 'Penghuni' makam tersebut dianggap punya kesaktian.
Tidak salah jika pada hari-hari tertentu Astana Mangadeg didatangi banyak orang. Selain ingin beroleh petunjuk, mereka juga berburu pusaka kraton yang ditengarai masih tersebar.
"Pada hari-hari tertentu, pusaka bermuncul. Terbang dan bercahaya," kata Prawiro yang mengaku telah mendiami rumah di seberang areal parkir Astana Mangadeg sejak tahun 1961 itu.
Astana Mangadeg tak jauh dari Giribangun, kurang lebih 500 meter dengan jalan menanjak dan berkelok. Astana Giribangun dikelilingi pagar tembok yang tak terlalu tinggi dan kawat, sedangkan Astana Mangadeg yang diperbaiki pada tahun 1967 itu dibiarkan terbuka.
(try/asy)











































