"Wah, nggak tahu. Kita sudah minta ke agen, tetapi mereka bilang habis," kata Iwan (32) salah seorang pemilik kios kepada detikcom, Senen, Jakarta Pusat, Kamis (17/1/2008).
Ketika detikcom menyambangi lapak toko buku di tengah Segi Tiga Emas Senen tersebut, penjual pun harus mencarikan ke penjual lain dengan waktu yang cukup lama. "Nunggu sebentar ya," kata Ujang (30) salah seorang pemilik lapak yang telah jualan lebih dari sepuluh tahun.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau harganya mahal sekarang Bang, Rp 150 ribu," ujar dia.
Menurutnya, sejak Soeharto masuk RSPP dan selalu ditayangkan di TV, buku menjadi susah dicari dan harganya menjadi mahal. Padahal, buku tersebut di hari biasa paling cuma dibandrol Rp 50 ribu. "Namanya juga hukum pasar. Semakin dicari, ya semakin mahal," ujarnya seraya berkilah.
Pencarian diteruskan ke lapak lainnya, yang berjarak lumayan jauh dari tempat semula. Hasilnya pun sama. Buku Soeharto susah dicari bak lenyap ditelan bumi.
"Adanya yang bahasa Inggris. Judulnya Plots & Schemes That Brought Down. Kalau ini murah. Cuma Rp 60 ribu. Kalau nggak lagi banyak dicari sih harganya Rp 30 ribu dapat," kata pedagang buku, Fajar (42).
Mereka mengaku, dalam sehari pencari buku-buku Soeharto bisa mencapai 5 orang. Baik untuk kepentingan akademik atau koleksi pribadi. "Tapi kalau yang berbau mistiknya Soeharto nggak laku. Nggak ada yang nyari," tambahnya.
Seorang mahasiswi Ilmu Politik UI, Fitri (22), membeli buku-buku Soeharto untuk menambah data terkait skripsinya. Skripsinya sendiri terinspirasi dari seringnya mantan presiden ini masuk tv belakangan terakhir. "Kok jadi mahal ya?" tanyanya heran.
(asp/mly)











































