LSM Kecam Pembabatan 20 Ribu Ha Lahan di TNBT

LSM Kecam Pembabatan 20 Ribu Ha Lahan di TNBT

- detikNews
Kamis, 17 Jan 2008 15:18 WIB
Pekanbaru - Sejumlah organisasi lingkungan mengecam keras tindakan Asia Pulp and Paper (APP), induk perusahaan Sinar Mas Group yang membabat hutan di Taman Nasional Bukit Tigapuluh (TNBT). Sedikitnya 20 ribu hektar hutan alam porak poranda untuk pentingan bahan baku pabrik kertas.

Perambahan hutan di lansekap (hamparan) TNBT itu merupakan hasil investigasi 5 NGO internasional. Mereka adalah Komunitas Konservasi Indonesia WARSI (KKI WARSI), Yayasan Pusat Konservasi Harimau Sumatera (PKHS), Frankfurt Zoological Society (FZS), Zoological Society of London (ZSL) dan Worldwide Fund for Nature (WWF)-Indonesia.
 
Sejumlah NGO ini, mengutuk keras atas kebijakan Dephut RI yang memberikan konversi eks HPH di sekitar TBNT untuk kepentingan pabrik bubur kertas kelompok APP di Riau dan Jambi.

Letak TNBT yang berada di dua wilayah Riau dan Jambi ini, kini diambang kepunahan atas kebijakan pemerintah yang akan memberikan kawasan hutan untuk dijadikan Hutan Tanaman Industri.
 
"Kami dari berbagai organisasi lingkungan yang bekerja di lansekap TNBT  mengecam keras rencana penghancuran hutan alam tersebut secara sistematis yang akan mengancam habitat satwa liar, pengaturan tata air pada DAS Indragiri dan Reteh di Riau serta DAS Batanghari dan Pengabuan di Jambi, serta sumber penghidupan masyarakat setempat, terutama suku Talang Mamak dan Orang Rimba," kata Direktur Warsi Diki Kurniawan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Hal ini disampaikan Diki dalam siaran pers yang diterima detikcom, Kamis (17/1/2008) di Pekanbaru.
 
Menurut Diki, Provinsi Jambi merupakan daerah hutan alam yang menjadi target pengalihan sumber bahan baku untuk produksi bubur kertas.Hal itu dimungkinkan karena kegiatan konversinya di Riau saat ini dihentikan oleh pihak penegak hukum  terkait tuduhan pembalakan liar dan kejahatan lingkungan yang dilalukan Sinar Mas Grup di Riau.
 
Sejumlah konsesi HPH yang tidak beroperasi lagi di blok hutan Bukit Tigapuluh menjadi target pembukaan hutan untuk penanaman Akasia atas nama PT Arara Abadi anak PT Indah Kiat Pulp and Paper (IKPP) dari Riau dan PT Wirakarya Sakti dari Jambi, keduanya adalah anak perusahaan APP.

"Pembukaan hutan di lansekap Bukit Tigapuluh ini di wilayah Jambi ini dalam  upaya memenuhi kebutuhan industri pulp dan kertas mereka, setelah di Riau perusahaan kertas tersansung illegal logging yang masih diproses oleh Mabes Polri," terang Diki.
 
Hasil investasgasi lima NGO itu menyebutkan, APP induk Sinar Mas Group milik taipan Eka Tjipta Wijaya telah menebang sekitar 20.000 hektar hutan alam yang merupakan bagian dari Bukit Tigapuluh. Lokasi penebangan hutan itu, tepatnya di sekitar hutan lindung Bukit Limau guna menutupi kebutuhan produksi bubur kertas PT IKPP di Riau dan PT Lontar Papyrus Pulp and Paper di Jambi.
 
Mengancam Ekosistem
 
Adanya perambhanan hutan di TNBT semakin mengancam habitat orang utan, harimau, gajah, maupun masyarakat asli setempat akibat maraknya pembukaan lahan hutan alam. Dibutuhkan keputusan yang bijak dari pemerintah dan dukungan seluruh pemangku kepentingan untuk melindungi lanskap Bukit Tigapuluh, sebelum semuanya terlambat.
 
Ian Kosasih, Direktur Program Kehutanan WWF-Indonesia meminta pemerintah untuk memberikan perhatian lebih pada ancaman ekosistem yang sedang terjadi di Bukit Tigapuluh.

"Sejumlah usulan dari kelompok konservasi terkait dengan perlindungan lansekap Bukit Tigapuluh selayaknya diperhatikan dan ditindaklanjuti, karena kegiatan konversi sangat cepat pengaruhnya dalam mengubah  tutupan dan kondisi hutan alam. Karena itu penebangan hutan alam di landskap Bukit Tigapuluh harus dihentikan secepatnya,” kata Ian Kosasih.
 
Lima kelompok konservasi ini telah mengajukan surat bersama pada 3 September 2007 kepada Menteri Kehutanan terkait dengan rasionalisasi Taman Nasional Bukit Tigapuluh dan perlindungan habitat harimau, gajah, dan orang utan di sekitar TNBT serta perluasan hutan lindung Bukit  Sosah - Bukit Limau.
 
Tercatat tidak kurang 198 jenis burung (1/3 jenis burung di Sumatera) dan 59 jenis mamalia hidup di lansekap Bukit Tigapuluh (penelitian Danielsen dan Heegaard, 1995) serta terdapat flora endemik dan langka, cendawan muka rimau (Rafflesia hasseltii) dan Salo (Johanesteima altifrons).
(cha/mly)


Berita Terkait