Saat Soekarno Sakit dan Wafat

Soeharto Bicara Bung Karno (2)

Saat Soekarno Sakit dan Wafat

- detikNews
Kamis, 17 Jan 2008 15:17 WIB
Saat Soekarno Sakit dan Wafat
Jakarta - Bagaimana Presiden Soeharto bertindak saat Bung Karno jatuh sakit dan wafat? Pak Harto meminta Bung Karno dirawat di RSUD Gatot Subroto. Saat Bung Karno wafat, Pak Harto juga segera menjenguknya ke rumah sakit.

Pengakuan Pak Harto ini tertuang dalam buku Otobiografi 'Soeharto, Pikiran, Ucapan, dan Tindakan Saya' yang ditulis G Dwipayana dan Ramadhan KH. Buku ini diterbitkan oleh PT Citra Lamtoro Gung Persada.

Sayang, Pak Harto tidak banyak bercerita mengenai situasi detil saat Bung Karno sakit hingga menjelang ajalnya. Dia hanya mengutarakan kisah ini sekilas kurang dari dua halaman. Intinya, dalam buku itu, Pak Harto membuat kesan tanggap dan cepat dalam menangani Bung Karno.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Berikut cuplikan pengakuan Pak Harto mengenai wafatnya Bung Karno pada 21 Juli 1970:

Tanggal 16 Juni 1970 saya terima kabar bahwa penyakit beliau tampak parah. Saya perintahkan kepada dokter-dokter untuk menjaganya baik-baik dan jika perlu membawanya ke Rumah Sakit Gatot Subroto. Hari itu juga Bung Karno diangkut ke RSPAD Gatot Subroto dan mendapat perawatan intensif.

Waktu saya mendengar beliau meninggal pada tanggal 21 Juli 1970, cepat saya menjenguknya ke rumah sakit. Seteah itu barulah saya berpikir mengenai pemakamannya.

Tetapi semua itu tidak mengejutan dan tidak membingungkan saya, karena memang sudah ada rencana untuk menghormati Bung Karno sebagai proklamator. Hanya waktu itu saya masih merasa perlu mendengar pendapat orang-orang lain dalam rangka mempraktekkan mikulduwur mendem jero, pegangan hidup saya itu.

Saya perintahkan untuk mengangkut jenazahnya ke Wisma Yaso. Lalu saya kumpulkan para pemimpin partai-partai. Saya sudah punya pikiran bahwa beliau harus kita hormati. Artinya, bangsa Indonesia harus memberikan penghormatan terakhir kepada beliau dengan melaksanakan upacara pemakaman kenegaraan. Kecurigaan bahwa beliau terlibat G 30 S/PKI sudah bisa dikesampingkan karena hal itu belum bisa dibuktikan.

Yang jelas, kita harus memberikan penghargaan atas jasa-jasa beliau sebagai pejuang yang luar biasa. Sejak dulu, beliau adalah pejuang, perintis kemerdekaan. Dan sebagai proklamator, beliau tidak ada bandingannya.

Ternyata para pemimpin partai politik menyetujui pikiran saya, termasuk Bung Hatta yang juga saya minta pertimbangannya. Dengan spontan, mereka menyatakan sangat menghargai sikap penghargaan saya kepadanya.

Maka keputusan pun saya ambil: pemakaman dilaksanakan dengan upacara kenegaraan. (bersambung) (asy/nrl)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads