Soekarno mengalami sakit berat saat ditahan pemerintah Orde Baru di Wisma Yaso pada pertengahan Juni 1970. Saat itu, dia ditangani oleh tim dokter kepresidenan yang dipimpin dr Mardjono, sering disapa dr Mardjo. Nama lengkap dokter ini adalah dr Mahar Mardjono. Mantan Rektor UI ini juga merupakan dokter pribadi Bung Karno.
Menjelang ajal menjemput Bung Karno, dr Mardjono tampak sibuk menangani proklamator itu di Ruang Care Intensive Unit RSPAD Gatot Subroto. Dia pulalah yang memastikan dan menyaksikan kematian orator ulung itu pada 21 Juni 1970.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Beberapa hari menjelang wafat, Soekarno dijenguk bekas duetnya, mantan Wakil Presiden Mohamad Hatta alias Bung Hatta. Pertemuan yang mengharukan. Bung Hatta dan Bung Karno masih sempat berkomunikasi walau sangat terbatas. Bung Hatta menangis melihat nasib Bung Karno.
38 Tahun berselang setelah kematian Bung Karno, kali ini Pak Harto juga mengalami kritis. Kondisi kesehatannya sangat menurun. Pak Harto ditangani puluhan tim dokter yang dipimpin dr Mardjo juga. Nama lengkapnya, dr Mardjo Soebiandono.
Hingga saat ini, dr Mardjo masih terus memimpin tim dokter untuk menangani secara intensif Pak Harto. Sudah dua pekan, Soeharto terbaring lemas di RSPP. Pak Harto sudah berkali-kali mengalami status kritis. Namun, beberapa kali juga kondisinya membaik, meski saat ini 'Bapak Pembangunan' ini masih berstatus kritis.
Bila dulu Bung Karno masih bisa bertemu dengan duetnya yang kemudian 'bercerai', Bung Hatta, sebelum meninggal, Pak Harto juga dijenguk para sahabatnya. Sejumlah orang terdekatnya di era Orde Baru bergantian menjenguknya, meski banyak pula yang tidak bisa menjenguk Pak Harto secara langsung.
Mantan Presiden BJ Habibie yang dulu merupakan anak emas Pak Harto misalnya, hanya bisa menjenguk di ruang perawatan di sebelah ruang perawatan Pak Harto. Habibie tak bisa mendekat ke Pak Harto, juga tak ditemui keluarga Cendana. Gesekan politik membuat hubungan Habibie dan Pak Harto memburuk setelah penguasa Indonesia selama 32 tahun itu lengser pada 21 Mei 1998. Kasus antara Bung Karno dan Bung Hatta tentu bisa menjadi contoh yang lebih baik.
(asy/nrl)











































