Sesuai jadwal, kloter 66 Bekasi ini berangkat Selasa (15/1/2008) pukul 09.30 Waktu Arab Saudi (WAS) dari Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah. Namun maskapai memberitahukan delay karena kerusakan mesin. Rabu (16/1) pukul 09.30 WAS jamaah dibawa ke bandara dengan pemberitahuan akan segera diterbangkan ke Tanah Air.
Namun sesampai di bandara lagi-lagi mereka diberitahu bahwa pesawat belum bisa diterbangkan. Pukul 16.00 WAS, jamaah diperintahkan naik pesawat dengan pemberitahuan akan segera take off, namun dua jam menunggu di dalam pesawat jamaah kembali diminta turun.
“Katanya kerusakan pesawat belum bisa diperbaiki. Padahal kami sudah kelelahan, lagipula sejak siang hingga sore kami belum diberi makan oleh pihak penerbangan. Bahkan ada seorang jamaah kami yang sudah tua pingsan karena lelah dan kedinginan,” ujar Imam Budi Hartono, salah seorang ketua rombongan di kloter tersebut.
Jamaah harus menunggu di bandara dan baru diberi makan pukul 20.00 WAS. Diberitahukan lagi pesawat akan diberangkatkan pukul 20.20 WAS, namun lagi-lagi janji itu tak ditepati Saudi Airlines. Hingga akhirnya jamaah diberangkatkan Kamis (17/1) pukul 00.20 WAS dengan menggunakan pesawat pengganti.
Kepala PPIH Daker Madinah, Ahmad Kartono, menyebut peristiwa tersebut sebagai delay terlama tahun ini dan paling melelahkan. “Semua perkembangan di lapangan selama tertunda-tundanya keberangkatan jamaah Kloter 66 Bekasi itu selalu kami laporkan ke pimpinan di Jeddah dan Jakarta,” ujarnya.
Kartono juga mengaku sebagai petugas teknis di lapangan, pihaknya tidak berwenang menekan Saudia Arabian Airlines untuk mengeluarkan pesawat cadangan sejak awal sesuai kesepakatan antara maskapai pengangkutan haji dengan Pemerintah.
“Bahkan saya sendiri juga tidak diperbolehkan masuk bandara. Kami hanya bisa melaporkan semua kejadian di lapangan ke Jeddah dan Jakarta. Semua pembicaraan dengan pihak maskapai dilakukan oleh pimpinan PPIH di Jeddah dan Pak Dirjen Penyelenggaraan Haji Depag di Jakarta,” lanjutnya.
Sebagai petugas, Kartono hanya berharap semua kejadian itu menjadi catatan dalam evaluasi pelaksanaan haji. Termasuk yang mungkin bisa dilakukan, menurutnya, adalah pembicaraan ulang antara Pemerintah dengan pihak maskapai untuk memberikan pelayanan terbaik bagi jamaah di tahun-tahun mendatang.
Selain delay panjang yang dilakukan Saudi Airlines, pada Rabu malam PPIH Daker Madinah juga menerima pemberitahuan dari Garuda Indonesia Airlines. Pemberitahuan itu berisi delay penerbangan selama 24 jam untuk pengangkutan jamaah Kloter 43 Embarkasi Jakarta yang seharusnya berangkat Kamis (17/1) pukul 03.55 WAS menjadi Jumat (18/1) pukul 04.00 WAS. (mbr/aba)










































