Wartawan Penjaga Pak Harto: Flu, Tambah Gemuk & Boros

Wartawan Penjaga Pak Harto: Flu, Tambah Gemuk & Boros

- detikNews
Rabu, 16 Jan 2008 13:30 WIB
Jakarta - Wajah kusam dan tampak sayup terlihat di sebagian wajah wartawan yang meliput mantan Presiden Soeharto di RS Pusat Pertamina. Maklum, hari ini mereka genap 13 hari menunggu perkembangan Pak Harto

Salah seorang wartawan elektronik Fadhil (24) mengaku sudah 11 hari menunggui Soeharto di RSPP. Kalaupun istirahat dan pulang hanya kurang dari sehari saja. Setelah itu kembali bertugas hingga lebih dari 10 jam. Bahkan dirinya sering menginap di RSPP.

"Iya nih, badan ngedrop juga. Karena disuruh kantor standby terus siaga satu. Istirahat jadi nggak tenang," keluhnya saat berbincang-bincang dengan detikcom di sela-sela liputan di RSPP, Jalan Kyai Maja, Jakarta, Rabu (16/1/2008).

Fadhil juga mengaku sejak ditugaskan di RSPP, biaya yang dikeluarkannya untuk konsumsi juga membengkak dibanding hari-hari biasa. Dia mencontohkanharga nasi goreng yang mencapai Rp 9.000 sepiringnya. "Masa nasi sama udang tahu saja sampai Rp 11.000. Parkir motor 14 jam Rp 9.000," cetusnya sambil mengisap rokok.

Cerita yang sama juga dikatakan Dodo, wartawan sebuah TV. Di hari ke-10 dia terkena flu cukup berat.

"Pulang dari rumah sakit malah sakit. Pas terakhir-terakhir ini aja kena flu. Gimana nggak, tidur di luar cuma beralas matras," tutur pria gemuk ini.

"Tapi beratku malah tambah lho. Terakhir beratku 84 kg. Belum tahu sekarang. Wong di sini makan terus," celetuknya.

Meski demikian, wartawan peliput Soeharto, termasuk Fadhil dan Dodo, menerima tugas peliputan tersebut dengan gembira. Sebab menurut mereka, meliput Presiden RI kedua tersebut adalah pengalaman bersejarah bagi mereka.

Sedangkan ratusan wartawan lain terlihat duduk-duduk di teras lobi utama dan pintu IGD. untuk menghilangkan kejenuhan, mereka saling bertukar pikiran dan terkadang lempar canda.

Sementara aktivtas di RSPP sendiri berjalan normal seperti biasa. Salah seorang pengunjung, Eka, yang sedang mengantar majikannya Rusmini (82) mengaku tidak terganggu dengan aktivitas wartawan yang meliput.

Dia bahkan senang dapat melihat langsung bagaimana para pemburu berita bekerja. "Saya sih nggak apa-apa. Ibu juga gitu. Kita sudah biasa berobat di sini," katanya.

Tapi berbeda dengan Pak Umar (45) yang justru merasa terganggu. Apalagi jika datang tamu yang hendak menjenguk Soeharto, wartawan menurutnya sangat tidak tertib hingga mengganggu kenyamanan pasien yang sedang berobat.

Pengakuan serupa juga dikatakan salah seorang petugas keamanan RSPP. "Kalau soal keamanan tidak ada masalah. Cuma masalah ketertiban saja. Kita juga pahami tugas wartawan," ujar pria yang enggan disebutkan namanya itu.
(rmd/nrl)


Berita Terkait