Dia adalah Ucu Agustin, pembuat film dokumenter independen. Buruannya adalah lagak lagu para wartawan yang meliput mantan Presiden Soeharto di RSPP, Jl Kyai Maja, Jakarta.
"Gue pengen buat film dokumenter yang beda. Kalau dokumentasi yang biasa, jelas kalah sama anak TV, equipment-nya, resources-nya," ujar Ucu kepada wartawan, Rabu (16/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dia sigap mengambil gambar jika ada gerudukan wartawan mengejar penjenguk Soeharto, seperti hiruk pikuk saat mantan Presiden BJ Habibie datang semalam. Tidak hanya itu, tingkah polah wartawan yang begadang menghabiskan malam dengan ngerumpi, main kartu, atau tidur pulas pun tidak luput dari sorotan kameranya.
"Motivasi gue bikin film dokumenter adalah membuat media bercerita dengan tantangan yang berbeda. Semacam the next level dari proses menulis," ujar perempuan yang aktif dalam Sindikat Penulis Berita Pantau yang terkenal dengan jurnalisme sastranya ini.
Ucu sudah berbaur di RSPP sejak Rabu 9 Januari 2008 lalu. Tepat seminggu perempuan berambut pendek ini mewawancarai reporter TV, radio, koran, dan situs berita online. Namun Ucu mengaku heran, karena hanya dia saja yang membuat film dokumenter.
"Mendapati cuma gue yang bikin film itu cool, tapi kenapa cuma gue? Kenapa pembuat film independen nggak ada yang sensitif. Padahal ini peristiwa besar lho," ujar jebolan UIN Syarif Hidayatullah jurusan Teologi Filsafat ini.
Satu-satunya pembuat film dokumenter independen yang dia temui berasal dari AS yang juga fotografer lepas media asing. Ucu yang dibantu temannya Veronika Kusuma, seorang mahasiswi IKJ, tergabung dalam Komunitas Audio Visual Gambar Bergerak (KAVGB). Base camp-nya di Komunitas Utan Kayu.
Biarpun baru pada 2005 Ucu terjun dalam dunia film dokumenter independen, karyanya tidak bisa dianggap remeh. Dia pernah mengabadikan 3 hari terakhir hidup sastrawan Pramoedya Ananta Toer, penulis tetralogi Pulau Buru. Judul filmnya The Last Chapter of Pramoedya.
"Tiga hari gue ikuti terus dari rumah sakit sampai meninggalnya. Itu akhir April 2006," kenang perempuan energik kelahiran Agustus 1976 ini.
Dia mendapatkan akses dari keluarga Pram, walaupun awalnya dicurigai. Keberuntungan berpihak pada Ucu, karena saat mengambil gambar, hanya kamera miliknya yang masih prima.
"Ada keluarga Pram yang bawa kamera tapi baterainya drop, jadi gue yang ambil gambarnya," kata mantan reporter KBR 68H ini.
Filmnya yang lain, Death and Class, menjadi film dokumenter pendek terbaik dalam Jakarta International Film Festival (Jiffest) 2006 lalu. Filmnya yang paling gres, Kartini Bernyawa Sembilan, tentang wanita yang berjuang melawan AIDS. Film-filmnya dibiayai dari koceknya pribadi. Kisarannya dari Rp 1,8-11 juta, kecuali film Jiffest-nya yang dibiayai panitia Rp 25 juta.
"Itu juga ada kru yang nggak dibayar seperti kameramen atau editor," cetusnya.
Terlepas masalah biaya, Ucu juga harus punya stok sabar segudang. Menunggu momen kerap terasa membosankan. "Bisa saja gue berhenti dan nggak nerusin. Tapi gue harus punya target film ini selesai," tegasnya.
Sekarang Ucu sedang mencari produser pasca produksi film dokumenter tentang Soeharto ini. "Sudah habis 19 kaset video. Butuh editor bagus biar gambar dan cahayanya pas," pungkasnya. Ada yang berminat? (fay/umi)











































