Belum Ada Gemuruh di Astana Giribangun untuk Pak Harto

Belum Ada Gemuruh di Astana Giribangun untuk Pak Harto

- detikNews
Rabu, 16 Jan 2008 08:00 WIB
Karanganyar - Mantan Presiden Soeharto berstatus kritis. Namun, sebagian warga Desa Mangadeg, Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar meyakini Pak Harto tidak akan meninggal dalam waktu dekat. Hingga kini, belum terdengar letupan dan gemuruh sebagai tanda 'calon penghuni' Astana Giribangun akan datang.

Desa Matesih, beberapa hari terakhir ini sontak menjadi ramai. Sejak kabar Pak Harto kritis, banyak orang dari luar dan juga wartawan mendatangi desa yang sejuk ini. Wajar, di desa yang terletak di lereng Gunung Lawu itu terletak Astana Giribangun, tempat Pak Harto dimakamkan jika meninggal nanti.

Namun, kehidupan warga sekitar ternyata biasa-biasa saja. Tidak ada perubahan yang berarti, tidak terpengaruh dengan kehadiran 'orang-orang asing' ini. Mengapa? Sebab, sebagian dari mereka meyakini Pak Harto yang saat ini mengalami sakit yang parah akan meninggal dalam waktu dekat.

Sebuah mitos berkembang di area desa ini. Bila ada orang yang akan dimakamkan di Astana Giribangun, biasanya warga mendengar suara-suara letupan terlebih dulu.

Seperti disampaikan Haryanto (33), penduduk asli Matesih. "Cerita turun-temurun orang dulu, kalau ada yang mau masuk (dimakamkan) ke Giribangun, biasanya warga mendengar semacam letupan-letupan api. Tapi kalau dicari tidak ketemu," kata Haryanto kepada detikcom, Selasa (15/1/2008) kemarin.

Masih ada tanda-tanda misterius lainnya. "Selain letupan api, ada suara gemuruh-gemuruh alam di malam hari. Seperti suara gemuruh alam," tutur Haryanto lagi.

Haryanto yang lahir di desa ini menuturkan, suara-suara aneh seperti itu biasanya mulai terdengar ketika sore menjelang malam, hingga tengah malam. Suara itu terjadi beberapa hari sebelum warga akhirnya mengetahui ada yang akan dimakamkan di Astana Giribangun.

Pengakuan serupa juga disampaikan Mbah Mul (70). Lelaki petani yang mengaku melihat iring-iringan mobil saat pemakaman Ibu Tien Soeharto tahun 1996 lalu ini mengamini cerita Haryanto. "Ada semacam kepercayaan, kalau ada semacam suara letusan, tidak lama pasti arep ono wong seda (akan ada orang yang meninggal-Red)," ujar dia.

Tetapi Mbah Mul bilang itu sebatas mitos. Bisa dipercaya bisa juga tidak. "Yang memang cuma mitos Mas. Tapi banyak warga di sini yang meyakini," kata dia dengan suara pelan.

Sebelum pemakaman Ibu Tien tahun 1996 silam, Mbah Mul mengaku, mendengar suara-suara alam itu lebih dulu. "Dulu dengarnya habis Magrib, tiga atau empat hari sebelum Bu Tien dimakamkan disini," aku Mbah Mul.
(asy/nrl)


Berita Terkait