Pria berkumis tebal ini juga mengindikasikan adanya perampingan organisasi di jajaran Pemprov DKI.
"Jelas bahwa di sono-sini sudah ada beberapa satker yang perlu dapat peringatan. Kinerjanya masih belum optimal," ujar Fauzi di Balaikota, Jl Medan Merdeka Selatan, Jakarta Pusat, Senin (14/11/2008). Namun Fauzi enggan menyebutkan satker apa yang akan mendapat peringatan tersebut.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Contoh sederhana saja, hari libur, masyarakat sedang membutuhkan. Tidak tahunya, unitnya prei," cetus pria kelahiran 1948 ini.
Jika ada yang menilai program 100 harinya meleset, Fauzi mengakuinya. Seperti proyek pembangunan jembatan di Condet.
"Tapi saya bisa menerima alasannya. Jadinya akhir Januari dan awal Februari sudah bisa selesai. Padahal saya janji pada masyarakat awal Januari sudah bisa dilaksanakan," tutur Fauzi.
Fauzi melanjutkan, berdasar hasil kajian akademis yang dipimpinnya, menyarankan Fauzi agar organisasi di jajaran Pemprov DKI dibuat lebih ramping dan kaya fungsi.
"Tapi kita tidak berniat untuk mengurangi jumlah karyawan yang ada. Dan belum tentu juga ada penambahan karyawan. Itu fleksibel dan kita kaji lagi," kata pria beranak tiga ini.
Program 100 hari Foke antara lain pembangunan bus TransJ dan penindakan sebagian parkir liar.
Untuk masalah banjir, geladi lapangan dipersiapkan untuk daerah yang rawan banjir, serta pengerukan saluran-saluran drainase mikro dan makro. Namun target pembebasan lahan untuk Banjir Kanal Timur (BKT) hanya 70 persen yang terserap. Sehingga rencana pembangunan BKT molor.
(nik/sss)











































