Didoakan Ulama Keraton, Museum Radya Pustaka Dibuka untuk Umum

Didoakan Ulama Keraton, Museum Radya Pustaka Dibuka untuk Umum

- detikNews
Senin, 14 Jan 2008 12:00 WIB
Solo - Setelah dinyatakan tertutup untuk umum selama hampir dua bulan karena kasus pencurian arca bersejarah, Museum Radya Pustaka Solo, Senin (14/1/2008) dibuka kembali untuk umum.

Pembukaan diawali dengan prosesi adat Jawa kemudian dilanjutkan dengan pernyataan resmi dari Pemerintah Kota Solo yang disampaikan Wakil Walikota (Wawali) Solo FX Hadi Rudyatmo.

Prosesi adat Jawa dimulai oleh 3 ulama keraton Kasunanan Surakarta yang membacakan doa dalam bahasa Jawa. Para ulama keraton ini duduk bersila tepat di depan pintu museum bagian dalam. Sementara para tamu undangan duduk di kursi yang disiapkan di teras museum.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Di hadapan ulama keraton telah disiapkan sejumlah tampah penuh berisi sesaji berupa makanan. Usai berdoa, seorang ulama melantunkan macapat Serat Kalatidha.

Tembang macapat sepanjang 12 bait ini diciptakan pujangga besar Ranggawarsita pada 1860. Tembang itu mengisahkan tentang jaman edan, jaman dimana kondisi negara dan bangsa dilanda krisis di seluruh aspek kehidupan. Seremoni pembukaan museum diakhiri dengan pernyataan pembukaan resmi oleh Wawali Solo Hadi Rudyatmo.

Dalam sambutannya, Hadi Rudyatmo mengatakan, keberadaan museum Radya Pustaka sangat penting karena merupakan museum tertua di Indonesia. Museum Radya Pustaka juga merupakan pusat studi yang sangat penting karena menghubungkan antar generasi.

"Naskah-naskah bersejarah dan seluruh koleksinya adalah jembatan komunikasi antara generasi lalu dengan generasi kini dan sesudahnya. Ini adalah pusat ilmu pengetahuan yang sangat penting," tuturnya.

Karena ditahannya kepala museum dan 2 karyawan yang terlibat pencurian arca, pengelolaan museum Radya Pustaka sementara ini dilakukan Dinas Pariwisata Solo.

Menurut Kepala Dinas Pariwisata Solo, Handartono, pengelolaan museum nantinya akan dilakukan tim gabungan antara Pemkot Solo, Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Tengah, dan Direktorat Permuseuman.

Hingga saat ini pembentukan tim tersebut masih dibicarakan secara intensif sembari melakukan penataan museum.

"Kita juga masih menunggu datangnya 6 arca yang sempat dicuri itu. Hingga hari ini polisi belum memperbolehkan kami untuk membawanya karena masih diperlukan sebagai barang bukti," katanya. (umi/ana)


Berita Terkait