Soeharto, Kekuatan yang Tak Kunjung Padam

Soeharto, Kekuatan yang Tak Kunjung Padam

- detikNews
Senin, 14 Jan 2008 10:39 WIB
Jakarta - Kekuatan Pak Harto tidak hanya dirasakan di zaman Orde Baru. Di era reformasi sekarang ini, pengaruh Pak Harto masih sangat kental dirasakan.

Sejak mantan Presiden RI ini lengser dari jabatannya tahun 1998, apa pun pemberitaan seputar Pak Harto menjadi sangat menarik. Mulai tahun 1999, saat dia terkena stroke ringan dan dirawat di RSPP hingga 2008 kembali dirawat di rumah sakit yang sama, Pak Harto selalu menjadi selebriti utama di semua jenis media massa, mengalahkan pemberitaan lainnya.

Tidak hanya wartawan yang ikut tegang mendengar kondisi kesehatan Pak Harto yang sangat kritis. Bandara Adi Sumarno, Solo, Jawa Tengah, pun siap siaga, jika hal terburuk terjadi pada Pak Harto. Bandara Adi Sumarno sudah standby sejak 4 Januari 2008, hari pertama Pak Harto kembali dirawat.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Bandara Adi Sumarno sendiri merupakan titik penting jika Pak Harto meninggal karena akan dimakamkan di Astana Giribangun, Kabupaten Karanganyar, sekitar 30 km dari Solo. TNI juga telah siap sedia, membuat protap skenario pemakaman.

Bahkan kegiatan negara seperti kunjungan PM Myanmar Thein Sein yang seharusnya datang Senin (14/1/2008) sore ini, ditunda demi Pak Harto.

Jubir Kepresidenan Dino Patti Djalal mengatakan, setelah berkonsultasi dengan pemerintah Myanmar, ada kesepakatan untuk menunda kunjungan. Hal tersebut mengingat kondisi psikologis nasional Indonesia terkait dengan mantan presiden RI Soeharto.

Sejumlah tokoh penting di Indonesia secara bergiliran menjenguk Pak Harto. Mulai dari Mensesneg era Soeharto, Moerdiono, yang menjenguk hampir setiap hari, mantan Menteri Keuangan Fuad Bawazier, KH Abdullah Gymnastiar, sampai Wapres Jusuf Kalla dan Presiden SBY.

Dan setiap Pak Harto kritis, selalu saja perdebatan kasus hukumnya mencuat. Saat jenderal besar itu masuk RSPP tahun 2006, pemerintah memberinya 'kado' berupa Surat Penghentian Penuntutan Perkara (SKP3). Kasus pidana dugaan korupsi 7 yayasan yang ditujukan padanya pun ditutup.

Bulan ini, perdebatan hukumnya juga muncul lagi. Keluarga Cendana meminta agar kasus perdata dugaan korupsi 7 yayasan ditutup juga seperti kasus pidananya. Jaksa Agung Hendarman Supandji bahkan perlu datang ke RSPP pukul 01.00 WIB Sabtu (12/1/2008) untuk menemui keluarga Cendana dan menawarkan perundingan di luar pengadilan.

Presiden SBY juga mempercepat kunjungannya dari Malaysia. SBY lalu menggelar sidang kabinet terbatas di rumahnya di Cikeas pada Sabtu siang. Di akhir rapat, SBY berpidato di depan wartawan meminta publik untuk mempolemikkan kasus hukum Soeharto, mengingat kondisi kesehatan Pak Harto yang selalu diwarnai kata gawat.

Di kalangan rakyat bawah, pengaruh Soeharto juga cukup kuat. Doa bersama, tahlilan, salat sunat 2 rakaat, terdengar di sejumlah kampung.

Tak cuma orang yang bersimpati, mereka yang pernah menjadi korban Orba juga buka suara. Mereka juga mendoakan agar Soeharto lekas sembuh, agar supaya proses pengadilan bisa berjalan.

Pernak-pernik yang berkaitan dengan Soeharto juga diburu. Misalnya saja buku otobigrafinya yang blak-blakan "Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya", menjadi barang mahal. Sedangkan Astana Giribangun -- calon tempat makam Pak Harto -- serta Dalem Kalitan -- rumah keluarga Cendana di Solo -- menjadi objek wisata baru masyarakat.

Jadi jangan heran kalau Pak Harto bisa dijuluki orang terkuat di Indonesia. Setelah berkuasa 32 tahun, Pak Harto hingga kini tetap menancapkan pengaruhnya meski sedang terbaring lemah di rumah sakit. (ziz/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads