Kerabat dan kolega semua mendoakan kesembuhan bagi Soeharto. Bekas lawan-lawan politiknya pun tidak mau ketinggalan ikut menjenguk dan mendoakan Soeharto. Bisa dibilang, sakitnya Soeharto mengundang simpati hampir seluruh masyarakat Indonesia. Di sejumlah daerah, beberapa kelompok masyarakat juga ikut mendoakan kesembuhan Soeharto. Bahkan di Surabaya, buku-buku tentang Soeharto laris manis terjual.
Tapi bukan berarti semua masyarakat simpati terhadap mantan penguasa orde baru tersebut. Ada juga yang tetap ngotot agar Soharto ngotot untuk menyeret Soeharto ke pengadilan. Dr Asvi Warman Adam, seorang Peneliti Utama LIPI, melihat, sakitnya Soeharto menimbulkan empat pandangan di kelompok masyarakat. Ada golongan yang sangat memuji, pragmatis, kritis, dan sangat kritis.
Golongan yang sangat memuji ini pertama terdiri atas para pembantu presiden, politisi yang pernah diuntungkan rezim atau yang ingin menyenangkan hati Soeharto. Golongan pragmatis, berasal dari para teknokrat yang pernah menjadi menteri dan pejabat tinggi atau pakar yang melihat aspek positif dari ekonomi Orde Baru.
Adapun kategori ketiga adalah pengamat dan aktivis LSM yang kritis terhadap kepemimpinan Soeharto yang dinilai otoriter. Sedangkan golongan terakhir adalah mereka yang bersuara sangat keras terhadap korupsi dan pelanggaran HAM yang dilakukan pemerintahan Soeharto.
Asvi sendiri mengaku berada di tengah-tengah. Alasannya, untuk menilai Soeharto saat ini sangat sulit. "Perlu waktu beberapa tahun untuk menunggu situasi yang lebih tenang sehingga kita dapat mengeluarkan pendapat yang jernih," tulis Asvi di sebuah media massa beberapa hari lalu.
Namun berdasarkan penilitian yang dilakukan Lingkar Survei Indonesia (LSI), golongan yang mayoritas adalah kelompok yang memuji. Setidaknya ini tercermin dari hasil survei yang dilakukan lembaga ini tahun lalu. Berdasarkan hasil survei LSI, dari 438 responden sebanyak 61,1 persen masyarakat Jakarta dapat memaafkan mantan Presiden Soeharto, tapi sebanyak 50,1 persen masyarakat tidak menginginkan proses hukum atas mantan penguasa Orba itu dihentikan.
"Setelah bertahun-tahun ternyata persepsi publik terhadap Soeharto mengalami perubahan yang signifikan. Sebab secara umum masyarakat untuk wilayah Jakarta, bisa memaafkan kesalahan Soeharto, kurang dari 25 persen yang tidak bisa memaafkan," ujar Direktur LSI Denny J.A kepada detikcom.
Ia juga mengatakan, sebagian besar publik memaafkan Soeharto lantaran masyarakat menilai jasa Soeharto lebih besar dibandingkan kesalahannya. Selanjutnya karena alasan kemanusiaan bahwa Soeharto tidak mampu lagi menjalani proses hukum.
Hebatnya lagi, dalam survei LSI tentang siapa mantan presiden RI yang paling berjasa terhadap bangsa Indonesia, Soeharto menduduki peringkat teratas sebagai presiden yang paling berjasa. Posisinya berada satu tingkat di atas mantan Presiden Soekarno. Sebab sang proklamator hanya menempati urutan kedua dalam survei tersebut.
"Dari beberapa survei yang kami lakukan ternyata masyarakat masih melihat Soeharto adalah presiden yang paling berjasa bagi pembangunan," kata Denny. Denny memperkirakan, masih tingginya popularitas Soeharto akibat perubahan publik mood, setelah bertahun-tahun sejak reformasi bergulir.
Sebab, ujarnya, pada saat reformasi dan orde lama, kondisi keamanan dan ekonomi terpuruk. Apalagi di era reformasi, semua harga melambung dan ledakan bom terjadi di mana-mana. Yang paling menyedihkan, beberapa pulau terpaksa harus lepas dari tangan saat reformasi.
Kondisi inilah yang membuat masyarakat menilai Soeharto sebagai presiden yang punya kemampuan dalam memimpin dan mengelola republik ini, dibanding presiden-presiden yang lain.
Mantan Presiden Abdurrahman Wahid alias Gus Dur sempat bilang, Soeharto punya 3 jasanya yang besar bagi negeri ini. Jasa-jasanya adalah, Soeharto mengajak bangsa untuk memperhitungkan segala sesuatu, merencanakan segala sesuatu, dan ketiga, Soeharto membuat rencana pembangunan yang bertahap sehingga bisa memperhitungkan target dan strategi.
Pastinya, menurut Denny J.A, masih tingginya popularitas Soeharto membuat nilai jual keluarga Cendana-sebutan rumah Soeharto-masih sangat tinggi di kancah politik nasional.
Dari penelitian LSI yang akan diumumkan beberapa hari ke depan, imbuh Denny, "darah biru" dari trah Cendana masih sangat mungkin bersaing dalam perebutan kekuasaan dalam pilpres mendatang. "Darah biru" yang dimaksudnya adalah Siti Hardijanti Rukmana alias Tutut. mengapa Tutut? "Mungkin era-nya memang seperti itu,"tandas Denny.
Jatuhnya estafet kekuasaan keluarga ke anak perempuan sudah terjadi di sejumlah negara, termasuk Indonesia. Di India misalnya, ada mantan Perdana Menteri Indira Gandhi. Ia adalah anak Jawaharlal Nehru yang juga bekas penguasa India.
Kalau di Paskitan ada Benazir Bhutto. Mantan Perdana Menteri Pakistan yang terbunuh 27 Desember lalu itu, adalah anak dari pemimpin Pakistan Zulfikar Ali Bhutto. Sedangkan di Indonesia ada Megawati, mantan presiden yang juga anak dari seorang pemimpin Indonesia, Soekarno. Maka tidaklah aneh, jika trah Cendana juga akan dipimpin Tutut, yang juga seorang perempuan. (ddg/iy)











































