Menurut Adi Krisdianto, si pelukis itu, lukisan yang dibuat atas keinginannya itu belum dilunasi.
Ketika meninggalkan kediaman Pak Harto di Jl Cendana, Jakarta, Minggu (13/1/2008), ia menceritakan asal usul perkaranya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ia melukisnya pada hari yang sama Bu Tien meninggal hingga 100 hari setelahnya. Namun sayang, ketika rampung, lukisan 'diambil paksa' oleh seorang pejabat yang menurut Adi setingkat menteri. Adi hanya tahu lukisannya diambil untuk Pak Harto.
Apalagi, lukisan itu ternyata belum dibayar. Namun Adi menolak untuk memberitahu berapa nominal harga lukisan tersebut.
"Wah, mahal pokoknya," tandasnya di depan kediaman Pak Harto.
Meski saat itu tak ikhlas lukisannya diambil, ia tak bisa berbuat apa-apa.
Hingga empat tahun silam, keluarga Soeharto meminta Adi mengikhlaskan lukisan tersebut, tapi Adi menolak.
Baru sekarang, setelah mengetahui kondisi Pak Harto yang sangat kritis, ia pun sanggup merelakannya.
Hari ini ia datang untuk bertemu Maliki, sekretaris Pak Harto. Tapi sayang, Maliki sedang tidak ada. Ia pun hanya menitip pesan pada petugas.
"Sekarang saya menyampaikan kalau saya mengikhlaskan lukisan itu," katanya.
Lukisan berukuran 1,2 x 1,5 meter itu kini dipajang di Museum Purna Bakti Pertiwi, TMII. (lih/sss)











































