Probo juga memanfaatkan kondisinya saat ini yang 'bebas' untuk memaki orang-orang yang menuduh Pak Harto sebagai koruptor.
"Saya datang ke sini untuk menjenguk Pak Harto, mengenai penyakit Pak Harto itu bukan urusan saya. Bukan saya bisa ngobati, karena segala sesuatunya sudah diserahkan ke tim dokter kepresidenan," kata Probo saat baru tiba di RSPP, Jalan Kyai Maja, Jakarta, Sabtu (12/1/2008) pukul 20.40 WIB.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kasihan pada Pak Harto, kenapa selalu dapat fitnah terus, dituduh korupsi, dituduh diktaktor. Padahal Pak Harto memerintah 32 tahun," ujarnya.
Apalagi selama memimpin Indonesia, kata dia, Pak harto tidak pernah luput mempertanggungjawabkan kinerjanya setiap 5 tahun sekali kepada MPR sebagai lembaga tertinggi.
"Kenapa orang selalu mengatakan seolah-olah Pak Harto korupsi. Yang sedih banget, ini bangsa Indonesia bodoh benar Pak Harto dituduh korupsi. Korupsi yang mana?" tanya Probo.
Dalam 32 tahun masa kepemimpinannya, kata dia, Pak Harto hanya 2 bulan saja tidak mempertanggungjawabkan kinerjanya, yakni pada Maret-Mei 1998 karena rakyat sudah minta dia mundur.
Probo yang dikawal dua orang juga mengungkapkan, dia masih berada Jakarta karena pihak LP telah memperpanjang izinnya. Dia pun memperlihatkan secarik kertas kepada wartawan.
"Saudara tahu saya napi, tapi saya sudah asimilasi. Seperti tumbuhan yang mencari makan dari matahari di luar akarnya. Sama seperti saya, saya sudah tidak di dalam penjara lagi, cuma pindah tempat. Saya datang kemari mendapat izin. Izinnya kemarin, tapi diperpanjang," terangnya.
Soal kondisi terakhir Pak Harto, Probo menolak memberikan jawaban. "Saya tidak berhak menjelaskan kesehatan Pak Harto, itu urusan dokter. Saya sedih Pak Harto seperti itu," kata Probo yang mengenakan kaos biru yang dibalut jaket kotak-kotak hitam biru. (umi/gah)











































