Nenek ini bernama Mursyidah, 70 tahun. Dia mengaku tinggal di Jatibunder, RT 17 RW 14, Tanahabang, Jakarta Pusat. Dilihat dari fisik dan tutur katanya, Mursyidah sehat walafiat.
Dia yang mengenakan baju muslimah warna biru muda dengan kerudung warna hitam itu datang ke Cendana, Sabtu (12/1/2008) seorang diri. "Suami dan anak saya sudah meninggal dunia," kata dia.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Saya tadi naik bemo ke daerah Karet, terus nyambung naik PPD 213 dan turun di Taman Surapati. Dari Taman Surapati, saya jalan ke sini," jelas nenek yang sehari-hari berjualan makanan di Jatibunder.
Mursyidah tidak tampak membawa apa-apa, kecuali tas berwarna cokelat yang disandangnya. "Sejak pagi saya tidak buka warung saja, karena memang sudah berniat ke sini," ujar dia.
Mursyidah cukup hafal arah menuju Jl. Cendana. "Waktu Ibu Tien meninggal, saya dulu juga melayat ke sini," aku perempuan sepuh yang mengaku mengagumi Soeharto itu.
Mengapa mengagumi Soeharto? "Saya hanya simpati. Pak Harto itu orang yang baik. Itu terlihat dari wajahnya," aku dia. Dia berharap bila Tuhan hendak mengambil Soeharto selama-lamanya, semoga berjalan lancar dan cepat, tidak berlarut-larut.
Hingga pukul 13.30 WIB, Mursyidah masih duduk di kursi kayu di depan kediaman Soeharto. Para aparat yang berjaga di rumah Soeharto membiarkannya.
(asy/nrl)











































