"Saya liputan dari pagi. Sekarang masih harus menunggu kabar Pak Harto," ujar salah seorang wartawan cetak, Purwanto, sambil ngobrol-ngobrol lesehan di pinggir Jalan Cendana, Sabtu (12/1/2008) dinihari.
Purwanto tidak sendirian, puluhan wartawan lainnya kebanyakan juga telah kerja dari pagi. "Tapi ini kan liputan bersejarah, jadi nggak apa-apa," Purwanto menghibur diri sendiri.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Sejak Pak Harto sakit di RSPP, jadwal liputan saya nggak teratur. Jarang ketemu keluarga," keluh salah seorang wartawan.
Seperti peraturan sebelumnya, wartawan tidak boleh ribut. Sehingga pembicaraan pun harus pelan-pelan.
Obrolan kita terhenti saat mendengar suara tokek berdendang. Para wartawan pun bersama-sama menghitung suara tokek yang memecah kesunyian Cendana.
Selain dipenuhi para wartawan, para pedagang asongan pun setia menemani malam-malam jurnalis di Cendana. Benar kata teman tadi, ini memang liputan bersejarah, menyangkut
hidup mati mantan penguasa Indonesia.
(anw/nrl)











































