Mendarat, Terbang, Kemudian Jatuh

Ada Apa Dengan Pesawat TNI? (1)

Mendarat, Terbang, Kemudian Jatuh

- detikNews
Jumat, 11 Jan 2008 09:00 WIB
Jakarta - Helikopter Twin Pack S-58 pada masanya begitu handal bermanuver di hutan-hutan tropis Vietnam. Pasukan Amerika Serikat kala itu sangat mengandalkan pesawat ini untuk berpatroli mengawasi pasukan Vietkong di masa perang Vietnam.

Tapi, Senin lalu, helikopter buatan AS tahun 1958 terlihat tidak segarang dulu. Tubuh rapuhnya tampak teronggok di antara batang-batang kelapa sawit di Desa Ogom Kecamatan Sei Kijang Kabupaten Pelalawan, Riau. Pesawat yang dihibahkan AS ke Indonesia akhir tahun 70-an itu tiba-tiba nyungsep mencium tanah perkebunan.

Teka teki penyebab jatuhnya pesawat itu hingga sekarang masih belum terjawab. Tapi menurut Anton, seorang pekerja pembuatan jalan yang saat itu berada di sekitar lokasi kejadian sempat melihat helikopter naas itu mendarat di jalan tanah yang sedang dilakukan pengerasan oleh Anton bersama rekan-rekan sekerjanya.

Masih cerita Anton kepada detikcom, setelah heli itu mendarat, seluruh penumpang terlihat turun satu per satu. Selanjutnya di antara penumpang heli itu ada yang mengeluarkan kamera. Lantas beberapa saat penumpang heli itu melakukan pemotretan.

"Begitu mereka keluar dari heli, saya melihat ada bule mengeluarkan kamera. Dan mereka memfoto beberapa lokasi. Saya tidak tahu persis apa saja yang mereka foto," kata Anton yang mengaku jarak antara posisinya dan helikopter hanya beberapa puluh meter.

Setelah para penumpang puas memfoto perkebunan sawit di daerah itu, mereka kembali menaiki pesawat. Anton dan teman-temannya ketika itu melihat helikopter masih terbang rendah.

Setelah 10 menitan, ia tidak tahu lagi pesawat itu terbang kemana. Tapi tak lama setelah itu, ia mendengar dari warga desa, ada heli jatuh. Menurut perkiraan Anton, jarak jatuhnya pesawat dan lokasi tempatnya bekerja sekitar 8 kilometer.

Beberapa saat setelah kejadian, Kepala Penerangan Lanud Pekanbaru Mayor Dede N yang dihubungi wartawan menyatakan helikopter itu hanya berawak empat orang yakni pilot dan co pilot serta dua orang teknisi. Pilotnya bernama Kapten Pnb Arif Budiarto.

Tapi keterangan itu berbeda dengan informasi yang dikatakan Kapolres Pelalawan Ajun Komisaris Besar I Gusti Gunawa. Ia mengatakan terdapat 11 korban dalam peristiwa itu. Empat korban merupakan personil Lanud Pekanbaru, yakni Kapten Arif Budiarto, kopilot Lettu Bernandes Pasaribu, dan awak lainnya adalah Prada Agung dan Serma Bukhori.

Sementara tujuh korban lainnya merupakan warga sipil.Mereka adalah Robert Chandran, Mikael, Alex, Heri, Hendri Terry, Haryono, dan Andre. Belakangan diketahui Robert Chandran tewas.

Ia adalah pengusaha kaya asal Singapura. Versi majalah Forbes, Chandran adalah peringkat ke 14 daftar orang terkaya di Singapura.

Kabar tewasnya seorang miliarder Singapura di pesawat tempur TNI tentu berbuah tanya. Beberapa kalangan akhirnya angkat bicara. "Kalau dipakai sama pengusaha, itu namanya ngobyek," celetuk pengamat militer dan pertahanan dari UI Kusnanto Anggoro kepada detikcom.

Sebab sejatinya, Alat Utama Sistem Pertahanan (Alutsista), seperti helikopter hanya bisa digunakan untuk keperluan TNI. Sekalipun bisa digunakan sipil hanya dalam kondisi tertentu.

Untuk keperluan emergensi, pemberian bantuan dan penanggulangan korban bencana alam misalnya.

Menhan Juwono Sudarsono juga sepakat dengan pendapat itu."Izin penggunaan setiap alutsista TNI baik Angkatan Darat, Laut dan Udara oleh sipil hanya untuk penanggulangan bencana alam, atau kondisi darurat," ujar Juwono.

Tapi yang terjadi beberapa pesawat diduga telah disewakan ke warga sipil. Misalnya pesawat helikopter Twin Pack yang Jatuh di Palelawan, Riau. Seorang pengusaha Riau disebut-sebut menyewa helikopter tersebut untuk membawa Robert Chandran melihat-lihat lokasi perkebunan kelapa sawit di wilayah itu.

Pihak TNI AU belakangan membantah tegas dugaan ini. "Tidak ada itu sewa-menyewa pesawat. Tidak boleh itu," jelas Kepala Staf TNI Angkatan Udara (KSAU) Marsekal Madya TNI Subandrio.

Tapi kata Subandrio, pihaknya akan menyelidiki keberadaan tujuh penumpang sipil dalam helikopter tersebut. Tim penyelidik dari Mabes AU yang dipimpin Marsekal Pertama Rudi

Suprasojo dan Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) sedang melakukan penyelidikan untuk mengetahui status dan keberadaan orang sipil dalam helikopter TNI AU. Untuk sementara Mabes AU beranggapan helikopter itu sedang mengangkut orang sipil dalam acara joy-flight sejumlah anak berprestasi.

Selimut dugaan sewa-menyewa alat tempur milik TNI tentu harus disibak. Jalan satu-satunya, kata Ketua DPR Agung Laksono, Panglima TNI harus memberikan klarifikasi mengenai kejadian ini. Agung mengaku keberadaan warga negara Singapura di helikopter milik TNI AU itu sangat aneh dan mengherankan. Sebab sebagai pengusaha, seharusnya Chandran bisa menyewa helikopter dari perusahaan komersial.

Untuk itu DPR menganggap perlu pimpinan TNI menjelaskannya. Setidaknya hal itu bisa menepis berbagai kecurigaan yang selama ini berkembang. "Tapi kalau penyewaan terbukti, aparat yang terlibat harus ditindak," begitu kata Agung.

Beberapa anggota DPR yang lain berharap, pihak TNI mengadakan evaluasi menyeluruh pada semua pangkalan TNI AU seputar penggunaan pesawat. Setiap pesawat yang terbang harus jelas peruntukannya. Jalur perizinannya pun harus jelas. Tujuannya, supaya alat TNI AU yang jumlahnya sedikit dan usianya sudah tua itu tidak sembarangan terbang. Apalagi untuk dikomersialkan. (ddg) (ddg/cha)



Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads