Dalam tradisi Jawa, berbagai mitos dan tradisi mengiringi berjalannya waktu di bulan Suro.
"Suro itu dari tradisi Islam peringatan Asyuro. Itu diperingati karena pada tanggal 10 bulan Muharam cucu Nabi Muhammad Saidina Husin bin Ali dan umat Islam lainnya di Karbala," ujar pengamat sejarah Islam M Hisyam dalam perbincangan dengan detikcom, Rabu (9/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Sedangkan di kalangan masyarakat Jawa di pedesaan, masyarakat biasanya membuat bubur merah saat malam 1 Suro. Bubur tersebut lantas dibawa ke langgar. Setelah berdoa bersama, bubur pun dimakan beramai-ramai.
Di Keraton Yogyakarta, pada malam 1 Muharam biasanya digelar Topo Mbisu sembari kirab jalanan di Yogyakarta.
Sebagian lagi melakukan upacara Mubeng Beteng sambil mengitari Beteng Keraton Hadiningrat dan Beteng Puropakualaman. Kegiatan ini biasanya dimulai pukul 21.00 WIB hingga menjelang pagi.
Alhasil, Alun-alun Utara dan Alun-alun Selatan dipadati ribuan orang. Usai keliling benteng, warga pun berdoa bersama sambil melakukan evalusi hidup.
Sedangkan di Surakarta, dilaksanakan kirab pusaka dengan mengerahkan 5 kerbau bule. Konon kegiatan itu sudah dilakukan sejak Keraton Surakarta berdiri tahun 1745.
Saat 1 Suro, banyak pula masyarakat yang membaca Al Qu'ran hingga khatam. Menggelar pengajian bersama, ataupun takbir bersama di masjid. Intinya, tujuan tradisi adalah untuk mendekatkan diri kepada Tuhan.
Tahun Be
Menurut Hisyam, pada tahun ini, sistem windu kalender Jawa memasuki Tahun Be. Hal itu ditandai dengan jatuhnya 1 Suro pada Kamis legi.
"Saat kalender Jawa berdasar Saka, maka menggunakan sistem solar atau matahari. Pada sekitar 1610-1630, Sultan Agung mengubah ke kalender Islam yang berdasar sistem lunar (bulan), sehingga persis bulan Islam," jelas Hisyam.
(nvt/nvt)











































