"Untuk mendapatkan kepastian bila ada yang mempersoalkannya lagi dan menghindari penyesalan di kemudian hari, mengapa tidak pemerintah meminta second opinion. Terserah mau dari tim dokter Singapura, Australia atau lainnya," ujar anggota Wantimpres itu.
Pernyataannya di atas menjawab pertanyaan wartawan yang mencegatnya di Kantor YLBHI Jl. Mendut, Jakarta, Rabu (9/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Kalau dokter Indonesia saja ada satu bahayanya, orang masih sangsi dan katakan 'karena dokter itu tinggal di Indonesia dan berkarier saat Orde Baru berkuasa. Ini kan jadi bias," jelas pria berambut perak ini.
(lh/nrl)











































