Dalam pernyataan resmi yang dikeluarkan Direktur Bidang Sipil dan Politik UNIFIL Milos Strugar, satu kendaraan UNIFIL rusak berat akibat terkena ledakan bom itu dan personel militer PBB yang terluka saat ini sedang dalam perawatan intensif di Rumah Sakit Hammoud di Saida, Libanon.
Milos menambahkan bahwa penyelidikan resmi terkait serangan bom tersebut sedang dilakukan bekerja sama dengan pihak berwenang di Libanon. Namun Milos menolak berkomentar saat ditanya asal negara personel yang terluka itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Beberapa media berspekulasi tentang asal negara personel yang terluka, yaitu antara Irlandia atau Spanyol. Media lain menyebutkan satu korban mengalami luka parah sedangkan satu lagi hanya luka ringan," ungkap Sandy.
Serangan ini terjadi di sektor barat daerah operasi UNIFIL. Sektor barat ini diisi oleh Italia, Prancis, Korea, Belgia, Ghana, Qatar, Tanzania, Finlandia dan Irlandia, di mana terpisah 26 km dari area operasi Kontingen Garuda. Sementara Kontingen Garuda berdinas di sektor timur bersama Nepal, Spanyol, India, Malaysia, Polandia dan China, sehingga relatif jauh dari pusat serangan bom.
Namun, seperti yang ditegaskan oleh Petinggi UNIFIL, serangan bom tersebut jelas ditujukan kepada UNIFIL sebagai lembaga resmi PBB di Libanon Selatan. Artinya, seluruh Kontingen UNIFIL akan terkena dampaknya, baik langsung maupun tidak langsung.
Untuk itu, Dansatgas Yon Mekanis TNI Kontingen Garuda (Konga) XXIII-B Letkol Inf A M Putranto, S. Sos memerintahkan seluruh personel Satgas agar meningkatkan kewaspadaan, terutama pada saat melakukan tugas patroli, baik berjalan kaki maupun berkendaraan dan pada saat berjaga di Pos Statik (Static Point).
"Kemudian bagi personel yang berada di Pos atau Base Camp, diperintahkan untuk mengikuti terus perkembangan situasi taktis terakhir dan meminimalkan pergerakan atau bepergian bagi personel dan kendaraan di area operasi masing-masing sesuai skala prioritas kepentingannya," tutup Sandy.
(aba/aba)











































