"Jadi kita memang sedang melakukan pencarian dan itu ada tahapannya dan sekarang sedang memasuki tahap pendeteksian," kata Kepala Jawatan Hydro Oceanografi TNI AL, Laksamana Pertama TNI Willem Rampangile kepada
wartawan usai serah terima jabatan Panglima TNI di Mabes TNI, Cilangkap, Jakarta Timur, Selasa (8/1/2007).
Willem menjelaskan, saat pendeteksian dilakukan memang ditemukan benda yang dicurigai sebagai reruntuhan pesawat Nomad TNI AL. Pendeteksian ini harus ditindaklanjuti ke tahap klasifikasi.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Reruntuhan berbentuk kotak tersebut, menurut Willem, ditemukan di kedalaman 120 meter dengan ukuran panjang
sekitar 7 meter, namun belum diketahui benda apa. Beberapa kotak itu ditemukan di sekitar tempat yang diduga jatuhnya pesawat, yaitu ada dua titik.
"Belum bisa disimpulkan. Kemarin sedang diditeksi sekarang masuk tahap klasifikasi. Klasifikasi dilakukan di tempat dengan tim penyelam dan alat. Di atas kedalaman 60 meter memang diperlukan peralatan khusus dengan spesialisasi khusus dari penyelamnya," tutur Willem.
Ditambahkan Willem, untuk melakukan klasifikasi memerlukan peralatan khusus untuk mengetahui hasilnya. Untuk itu, radius pencarian juga akan diperluas. Sebelumnya, tahap awal pencarian dilakukan 1 kali 3 notical mile.
Kendala dan tantangan yang dialami timnya, lanjut Willem, profil dasar laut di temopat jatuhnya pesawat memang terjal. Dari pantai 700 meter ke laut curam, yang ditemukan itu pada kedalaman 120 meter itu pun di lereng.
Ketika ditanya dua korban yang masih hilang, Willem mengatakan, keduanya memang belum ditemukan. Kemungkinan pilot dan co-pilot masih terikat selt belt di tempt duduknya. "Ada kemungkinan kebawa arus pantai," imbuhnya.
(zal/ana)











































