"Waktu itu ada China Media yang menelpon saya minta konfirmasi. Itu adalah koran yang beredar di Asia Pasifik," ujar jubir kepresidenan Dino Patti Djalal.
Hal itu disampaikan dia dalam sidang di Pengadilan Negeri Jakarta Pusat Jl Gadjah Mada, Jakarta, Selasa (8/11/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
"Tanggapan beliau, ini fitnah dan sangat tersinggung. Ini serangan terhadap harga diri beliau," jelas dia dihadapan majelis hakim yang dipimpin Agoeng Rahardjo.
Keluarga SBY pun merasa marah. Bahkan ibunda SBY mengatakan pernyataan itu sangat keji.
"Ini usaha sistematis untuk menyerang Pak SBY. Motivasi pernyataan itu hanya dia (Zaenal) dan Tuhan yang tahu," imbuh Dino.
"Apakah terdakwa pernah minta maaf?" tanya hakim Agoeng.
"Yang saya ketahui, dia tidak pernah datang," ujar Dino.
Atas keterangan Dino, Zaenal pun memberi tanggapan. "Tidak benar tudingan sistematis itu. Saya tidak menyatakan dalam tanda petik, terbuka, seolah SBY pernah menikah sebelum masuk Akabri.
Sidang akan dilanjutkan kembali pada 15 Januari dengan agenda pemeriksaan saksi. Para saksi yang dipanggil adalah SBY, Untung Sumarwan, Didik Supriyanto, dan Endang Suryana.
Permintaan Maaf
Dihadapan wartawan, Zaenal membacakan surat kepada SBY yang dititipkannya kepada jubir kepresidenan Andi Mallarangeng. Surat itu berisi permintaan maaf tertanggal 28 Agustus 2007.
Disampaikan Zaenal, pernyataan dia hanya klarifikasi semata. Dia tidak menyangka hal tersebut begitu tidak terkendali sehingga merugikan SBY sekeluarga dan juga diri Zaenal.
"Melalui pertimbangan masukan orang tua, ulama, kyai, dan tokoh-tokoh Islam, dan salat istikharoh, bersama ini, dari lubuk hati paling dalam saya mohon maaf," kata Zaenal.
(nvt/ana)











































