Pahit Manis Diplomasi 2007

Pahit Manis Diplomasi 2007

- detikNews
Selasa, 08 Jan 2008 12:34 WIB
Jakarta - Perjalanan diplomasi Indonesia selama 2007 memiliki momen naik turun. Apa sajakah momen pahit manis politik luar negeri Indonesia?

Menlu Hassan Wirajuda menyampaikan refleksi diplomasi sepanjang 2007 ini dalam pernyataan pers tahunan Menlu 2008 di Kantor Deplu, Jl Pejambon, Jakarta Pusat, Selasa (8/1/2008).

"Myanmar menjadi duri dalam hubungan antarnegara-negara ASEAN dan masyarakat internasional. Khususnya setelah demonstrasi September 2007," kata Hassan.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Menurut dia, ASEAN mendukung misi utusan khusus PBB Ibrahim Gambari untuk membangun demokrasi di Myanmar. Indonesia melihat ASEAN perlu mendorong Myanmar untuk bekerja sama dengan ASEAN, PBB dan Cina.

"Untuk pertama kalinya ASEAN dengan keras meminta Myanmar memulihkan situasi dan menegakkan HAM," ujar dia.

Jika Myanmar menjadi ganjalan, Indonesia mempunyai catatan manis perjuangan diplomasi dengan suksesnya konferensi perubahan iklim UNCCC.

Namun Hassan mengakui, berbagai kepentingan politik dan ekonomi dari negara-negara delegasi membuat perundingan menjadi sulit.

"Kepentingan Indonesia berhasil melahirkan Bali Road Map yang mengatasi kebuntuan sebelumnya. Dan ini adalah puncak penampilan diplomasi Indonesia," kata Hassan dengan nada puas.

Sepanjang 2007, Hassan mengatakan situasi politik internasional cukup stabil dengan menurunnya konflik-konflik regional. Untuk 2008, kawasan ASEAN khususnya akan memfokuskan diri untuk mewujudkan komunitas ASEAN melalui ratifikasi piagam ASEAN dan cetak biru ekonomi ASEAN oleh setiap negara anggotanya.

"Pada 2008, di Asia Tenggara dan Asia Timur kita akan menikmati stabilitas regional. Indonesia memandang perlunya mempersempit kesenjangan politik di dalam kawasan," jelas dia. (mly/nrl)


Berita Terkait