Gempa Manokwari: Ban Taksi Dikira Kempes, Ternyata Gempa

Gempa Manokwari: Ban Taksi Dikira Kempes, Ternyata Gempa

- detikNews
Senin, 07 Jan 2008 16:34 WIB
Jakarta - Gempa berkekuatan 6,2 SR di Manokwari, Papua, membuat panik warga yang sedang bekerja di Sekolah Kehutanan Menengah Atas (SKMA). Salah satu staf tata usaha SKMA mengaku langsung lari keluar gedung bersama pegawai lainnya.

"Kita langsung berhamburan keluar. Panik berat," kata staf tata usaha SKMA Yuliana Suyanti, kepada detikcom, Senin (7/1/2008).

Saat itu, sekitar pukul 12.00 WIT para pegawai sedang salat zuhur. Kemudian terasa goncangan cukup hebat selama beberapa detik. Tak lama setelah gempa, pegawai kembali ke dalam gedung menyelesaikan pekerjaannya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Tidak lama aman, saya masuk lagi sambil mengunci pintu, lalu pulang," ujar dia.

Dia menuturkan, akibat gempa gedung SKMA mengalami keretakan di beberapa sisi. "Tapi retaknya tidak begitu terlihat," tutur dia.

Meskipun usai gempa banyak warga yang mengungsi ke tempat yang lebih tinggi, Yuliana lebih memilih untuk tetap bertahan di rumahnya yang terletak hanya beberapa meter dari bibir pantai. Dia mengatakan justru kompleknya di Balai Latihan Kehutanan yang dijadikan tempat mengungsi para korban kebakaran di Jalan Borobudur.

"Ada 2 tenda didirikan. Mudah-mudah di sini aman. Lillahita'ala (Berserah diri padaNya)-lah," imbuh dia.

Sementara, Tuti yang tinggal di Jalan Pahlawan mengaku merasakan gempa saat sedang di dalam taksi. Gempa yang dirasakannya sangat kuat, hingga kaca-kaca di sebuah kantor pemeriksa keuangan yang dilewatinya berbunyi. Tembok pun terlihat retak.

"Saya pikir ban taksinya kempes, ternyata gempa. Soalnya kencang sekali," cerita  Tuti.

Menurut Tuti jika gempa berkekuatan serupa terjadi lebih lama maka akan menimbulkan lebih banyak kerusakan. Dia mengaku hingga saat ini sudah merasakan dua kali gempa susulan.

"Tapi gempanya tidak begitu besar seperti yang pertama," pungkas dia.

Menurut Depkes, gempa ini menyebabkan 20 rumah rusak dan terbakar dan memaksa 200 orang mengungsi.

(ptr/nrl)


Anda menyukai artikel ini

Artikel disimpan

Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 

Belum ada komentar.
Jadilah yang pertama berkomentar di sini