Tampilnya Ulama Bersabuk Tanah

Prediksi Mistik Politik 2008 (2)

Tampilnya Ulama Bersabuk Tanah

- detikNews
Senin, 07 Jan 2008 12:32 WIB
Tampilnya Ulama Bersabuk Tanah
Jakarta - Alam terus bergolak. Di tahun yang terlewati, Gunung Kelud meletus. Setelah itu Gunung Semeru menyusul, dan diakhiri dengan longsornya bukit di Karanganyar. Bukit yang menjadi sentra tanaman anthurium itu perlu disebut, karena secara metafisis kawasan itu mewakili sosok Gunung Lawu. Sedang di tahun 2008 ini, musibah masih didominasi banjir.

Dalam kepercayaan Jawa, terdapat tiga zaman besar yang amat penting. Pertama adalah zaman kalabendu atau zaman kegelapan. Zaman itu dipenuhi kekacauan dan maraknya ketimpangan. Dekadensi moral merupakan panglima. Pejabat korupsi dianggap wajar, dan penyalahgunaan wewenang merajalela. Maling uang rakyat secara berjamaah adalah kelumrahan.

Di zaman Kalabendu, berbuat baik dianggap sebagai kebodohan. Itu karena orang ramai-ramai menumpuk harta. Tidak perduli harta itu hasil merampok, menipu, atau upah membunuh. Nilai idealisasi masyarakat berubah. Orang yang dianggap baik bukan yang jujur dan sederhana, tetapi yang kaya, kendati moralitasnya tercela.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

Namun di balik itu, zaman Kalabendu juga mencatat kebaikan. Tempat ibadah terus bertambah, berbiak bak cendawan di musim hujan. Itu bukan karena kian suburnya orang yang sadar untuk menyembah Tuhannya, tetapi lebih dikarenakan para koruptor yang 'beragama' itu menyumbangkan sedikit hasil korupsinya untuk membangun tempat ibadah. Koruptor jadi 'pahlawan'. Itu respons positif masyarakat, buah dari pergeseran nilai, bahwa penyumbang identik manusia berbudi, yang tak perlu dipersoalkan lagi, darimana asal uang yang disumbangkan untuk 'membeli' budi itu.

Setelah zaman yang menonjolkan angkara murka itu mencapai puncaknya, tibalah zaman Kalatidha. Zaman ini merupakan zaman transisi. Hedonisme mulai surut, tindak korupsi terawasi, dan koruptor ketakutan dengan dirinya sendiri. Asas 'ngunduh wohing pakarti',
memanen apa yang ditanam mulai berlaku.

Saat itu nasib manusia ibarat roda pedati. Cakramanggilingan (nasib berganti). Mereka saling dikejutkan dengan nasib. Kejatuhan jabatan dan promosi jabatan menjadi kabar keseharian. Dan masanya hukum klasik soal baik-buruk kembali berlaku. Becik ketitik, olo ketoro. Yang baik akan diketemukan, dan yang jelek akan kelihatan.

Adakah zaman ini merupakan zaman awal Kalasuba? Tahun 2008 nampaknya masih dalam naungan zaman Kalatidha. Kebaikan sudah tampak, tetapi kejelekan juga belum sirna. Dalam bahasa Jangka Jayabaya, saat ini belum sepenuhnya terpenuhi syarat-syarat menuju zaman keemasan itu. Sebab tengaranya antara lain, 'Keleme gabus timbule watu item', selain tampilnya ulama bersabuk tanah.

Yang baik budi dan jujur dihargai, yang jelek dan korupsi bakal tersingkirkan. Dan tanda datangnya zaman yang menyiratkan kecerahan itu justru di tangan ulama. Kalau sudah tampil ulama yang rela mati demi agama dan kebenaran, maka itulah masa kehidupan bangsa ini memasuki era keemasan. Kapankah itu? (bersambung)

* Djoko Suud Sukahar, pemerhati budaya (iy/iy)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads