Soeharto, Pengecut

Kolom Lima Alinea (Kolma)

Soeharto, Pengecut

- detikNews
Senin, 07 Jan 2008 11:51 WIB
Soeharto, Pengecut
Den Haag - Matanya sembab. Wajahnya menyiratkan jiwa yang sudah lelah. Redup, tak bercahaya. Soeharto anno 2008.

Orang tua ini, sebelum maut yang dahsyat datang menjemput, sudah semestinya mendapat perlakuan ksatria. Mumpung masih ada hari buat dia. Supaya kepergiannya tidak lagi diiringi sumpah serapah yang memberatkan jiwa, tapi pemaafan dan doa.

Selesaikan proses hukumnya. Kalau tak salah putuskan tak salah. Kalau salah putuskan salah. Setelah itu silakan beri dia amnesti. Tapi malang. Dia berada di tangan orang-orang pengecut. Mereka menyangka memberi Soeharto perlindungan, padahal telah melemparkannya ke hukuman yang lebih kejam: sangkaan yang tiada habis di mata khalayak banyak, sepanjang masa.

Orang-orang terlanjur meyakini Soeharto korupsi. Anak-anaknya juga secara kasat mata kaya raya. Celakanya, sekali orang mengambil posisi, maka akan susah sekali mengubahnya. Soeharto dibiarkan menjadi bulan-bulanan seperti ini.

Tetangga seberang, Korsel, tegas memutuskan perkara dua mantan presidennya: Chun Doo-hwan dan Roh Tae-woo. Selesai. Diskusi tidak berkepanjangan, tidak buang-buang energi dan sumber daya. Karena elite Korsel bukan pengecut seperti elite kita.

Keterangan Penulis:
Penulis adalah koresponden detikcom di Belanda. Tulisan ini merupakan pendapat pribadi dan tidak menggambarkan sikap/pendapat tempat institusi penulis bekerja. (es/es)


Berita Terkait