Gunung bergiliran meletus, gelombang laut menyapu daratan. Air sungai meluap, menenggelamkan apa saja. Gejolak alam itu diikuti gempa bumi, yang terjadi sampai tujuh kali sehari. Akibat itu rakyat hidup susah. Banyak yang mati mendadak dimangsa setan bekasaan, hingga jumlahnya tinggal separoh.
Jika tidak cepat bertobat dan mengenal asal-usul, yang separoh itu juga akan dihadang maut. Mereka bak rumput di sawah yang terlindas bajak. Tersisa sedikit yang selamat. Termasuk ternak-ternak yang binasa, habis tak bersisa. Ada apakah gerangan? Itulah pertanda zaman baru telah tiba. Sebuah zaman dengan tata tertib baru.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam mitologi Jawa, alam dan manusia memang menyatu. Penyatuan itu terangkum dalam 'kitab kejadian'. Tuhan menurunkan makhluk (halus dan kasar), dengan media hidup dalam satu paket. Paket itu dijabarkan dalam kosmologi Jawa sebagai 'satu' itu 'tiga', dan 'tiga itu satu', yang kesemuanya wajib bersahabat dengan alam.
Maksud dari simbol 'tiga itu satu' adalah keyakinan adanya tiga 'kekuasaan' yang memerintah tiga jagad yang ada di bumi. Jagad Kasar diperintah manusia, Jagad Api dan Jagad Air diperintah makhluk halus. Ketiga jagad ini kendati dikendalikan oleh tiga pucuk pimpinan yang berbeda, namun hakekatnya adalah satu. Sebab, jika satu mengalami disharmoni, yang lain juga akan bernasib sama.
Berdasar rumus kosmologi Jawa itu, maka jika hari-hari ini Jagad Api dan Jagad Air telah menunjukkan keberingasannya, itu artinya, tak lama lagi Jagad Manusia akan mengalami reaksi serupa. Terjadi geger kepati, dan entah berapa ratus, ribu, atau juta manusia yang bakal menjadi tumbalnya.
Adakah kerusuhan massal yang diprediksi terjadi di tahun 2008 ini semata sebagai keharusan, persis seperti yang tersurat dalam Jangka Jayabaya Sabdo Palon? Benarkah 'siklus' metafisis yang tersuratkan itu tidak bisa dihindari? Jangka Jayabaya menyodorkan solusi. Katanya, mereka yang selamat adalah mereka yang memahami sangkan paraning dumadi. Manusia yang memahami asal-usul hidup. Jika tidak paham, diwajibkan mendatangi guru yang betul-betul guru, yang tahu tentang itu. Kalau tidak, maka celakalah dia.
(bersambung)
* Djoko Suud, pemerhati budaya
(asy/asy)











































