Pegawai Astana Giribangun Pantau Pak Harto Terus

Pegawai Astana Giribangun Pantau Pak Harto Terus

- detikNews
Minggu, 06 Jan 2008 14:25 WIB
Solo - Perhatian sebagian besar publik dalam negeri 3 hari ini tersedot mengikuti perkembangan kesehatan Pak Harto. Termasuk para pegawai Astana Giribangun di Kecamatan Matesih, Kabupaten Karanganyar, Jawa Tengah.

Astana Giribangun adalah kompleks pemakaman keluarga Soeharto. Di sinilah Ibu Tien yang meninggal dunia pada 1996 lalu dimakamkan.

Para pegawai Astana Giribangun perlu terus memantau sebab jika Allah SWT memanggil Pak Harto, tentu mereka harus mempersiapkan segalanya.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Mantaunya ya baca koran dan TV," ujar seorang karyawan yang sedang bersih-bersih, Minggu (6/1/2008).

Suasana Astana Giribangun yang terletak di perbukitan Gunung Lawu ini hingga pukul 14.00 WIB, tampak biasa-biasa saja. Tidak ada kesibukan mencolok. Hanya 20-an pegawai yang tengah membersihkan areal pemakaman yang luas itu.

"Bersih-bersih ini rutin kami lakukan pukul 07.00 hingga 16.00 WIB nanti," ujar Gito, salah satu pegawai, di Astana Giribangun.

Beberapa orang juga terlihat mengunjungi Astana Giribangun. "Semalam di sini diadakan Yasinan," imbuh Gito.

Sementara itu, sekitar 10-an wartawan terus berjaga di Astana Giribangun.

Mangadeg di Gunung Lawu

Kompleks Astana Giribangun yang megah dan luas berada di lereng barat Gunung Lawu. Tepatnya terletak di Desa Karang Bangun, Matesih, Karanganyar, sekitar 40 kilometer arah timur kota Solo.

Yang sempat diketahui publik, terakhir kali Soeharto ziarah ke makam tersebut adalah menjelang bulan puasa akhir tahun lalu bersama sejumlah anak dan pengawalnya. Makam itu dibangun di atas sebuah bukit, tepat di bawah Astana Mangadeg, komplek pemakaman para penguasa Istana Mangkunegaran, salah satu pecahan dinasti Mataram. Jika Astana Mangadeg berada di ketinggian 750 meter dpl, Giribangun pada 666 meter dpl.

Pemilihan posisi berada di bawah Mangadeg itu bukan tanpa alasan; untuk tetap menghormat para penguasa Mangkunegaran, mengingat Ibu Tien Soeharto mengaku keturunan Mangkunegoro III. Bahkan Giribangun disebut sebagai makam yang dikhususkan untuk keluarga Mangkunegaran yang keduabelas atau yang paling akhir.

Kompleks makam ini mulai dibangun pada tahun 1974 dan diresmikan penggunaannya para tahun 1976. Peresmian itu ditandai dengan pemindahan abu jenazah Soemaharjomo (ayahanda Tien Soharto) dan Siti Hartini Oudang (kakak tertua Ibu Tien), yang keduanya sebelumnya dimakamkan di Makam Utoroloyo, salah satu makam keluarga besar keturunan Mangkunegaran yang berada di Kota Solo.


(try/nrl)


Berita Terkait

 

 

 

 

 

 

 

 


Hide Ads