Β "Sudah empat hari kami menginap di emperan pelabuhan. Tidur beralaskan tikar sejak Rabu (2/1/2008)," tutur Hayatudin Ernas Hi Yusuf (63), jamaah haji asal Desa Werinama, Kecamatan Werinama.
Sebenarnya, kata Hayatudin, dirinya bersama jamaah haji asal SBT lainnya sudah menumpang KM Pangrango. Namun saat berlayar kurang lebih satu jam, kapal terhalang gelombang tinggi dan angin kencang. "Kapal langsung balik. Dan hingga kini kami masih berada di areal pelabuhan," ujarnya.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Baik Hayatudin maupun Said, menuturkan, saat berangkat, mereka diantar oleh Pemda SBT, namun saat kembali tak dijemput. "Kami dibiarkan mengurusi diri masing-masing. Kami kecewa," ujar keduanya.
Kendati demikian, 10 jamaah haji ini mengaku sadar akan kondisi laut yang belum bersahabat. "Kami sadar, laut belum tenang. Tapi paling tidak ada perhatian Pemda Maluku maupun Pemda SBT. Kami ini bukan tim sepakbola. Kami ini jamaah haji yang baru pulang dari jihad," kata Hi Fatima Wajo (50).
Kekecewaan juga tergambar dari keluarga jamaah haji. Taslim (56), asal Geser, menyatakan kekecewaannya atas sikap DPRD SBT maupun Pemda SBT. "Kasihan, jamaah haji ini rakyat biasa. Bukan keluarga pejabat atau DPRD. Makanya tidak diperhatikan," ujarnya sinis.
Hingga berita ini diturunkan, Bupati SBT Abdullah Fanath belum dapat dihubungi. Dari ponsel terdengar servis di luar jangkauan.
Jamaah Haji Meninggal
Sementara itu, informasi yang dihimpun detikcom di areal Pelabuhan Yos Sudarso Ambon, satu jamaah haji asal Kecamatan Bula, Kabupaten SBT meninggal dunia. Identitas jamaah haji ini belum diketahui.
Jamah haji ini sempat juga menumpangi KM Pangrango, hendak mudik ke Bula.Β S aat KM Pangrango kembali ke pelabuhan karena terhadang gelombang dan angin kencang, jamaah haji ini dilarikan ke RS dan sempat dirawat. Namun jiwanya tak tertolong.
Direncanakan, jasad jamaah haji asal Bula ini akan diantar ke kampung halaman melalui jalan darat dengan waktu tempuh sekitar satu hari. (han/nrl)











































