Kondisi geografis ketiga daerah itu berbeda dengan Demak, Lamongan dan Tuban yang berada di daerah landai (hilir). Ketiga daerah ini juga dibanjiri tumpahan Bengawan Solo.
Doktor pemodelan banjir Gatot Iryanto memastikan perubahan fungsi lahanlah penyebab banjir besar di sebagaian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur itu.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Gatot menyampaikannya dalam diskusi Polemik: Bencana Alam dan Aturan Tata Ruang yang diselenggarakan Radio Trijaya di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (5/1/2008).
Begitu diubah menjadi lahan non vegetasi, kecepatan air saat terjadi luapan akan sangat tinggi. Kondisi itulah yang terjadi di Bengawan Solo.
"Demak, Lammongan dan Tuban memang merupakan posisi genangan. Tapi Sragen, Ngawi dan Solo itu kan daerah hulu. Tapi sekarang banjir. Dilihat kondisi ini, apa iya banjir juga akan terjadi di Bogor? Bisa dibayangkan Jakarta akan jadi apa!" cetus Gatot.
Perpindahan banjir dari hilir ke hulu ini, imbuh Gatot, sangat luar biasa. Dia memastikan daerah-daerah itu sudah tidak aman sebagai hunian lagi.
Dibeberkan Gatot, data yang dilansir Dinas Sumberdaya Air PU, 16 sungai utama di Jawa yang sebelumnya dalam posisi kritis kini berubah menjadi high risk. Indikatornya terlihat dari rasio debit minimal air dibagi rasio debit maksimal air yangย sudah di atas rata-rata.
"Perubaan karakteristik ini berarti wilayah di sekitar sungai-sungai itu berisiko terhadap banjir, kekeringan dan tanah longsor," ujarnya. (umi/nik)











































