Daerah Hulu Bengawan Solo Tak Layak Huni Lagi

Daerah Hulu Bengawan Solo Tak Layak Huni Lagi

- detikNews
Sabtu, 05 Jan 2008 12:19 WIB
Jakarta - Banjir di Sragen, Ngawi dan Solo akibat tumpahan sungai Bengawan Solo dinilai sebagai kejadian luar biasa. Sebab ketiga daerah itu merupakan daerah hulu.

Kondisi geografis ketiga daerah itu berbeda dengan Demak, Lamongan dan Tuban yang berada di daerah landai (hilir). Ketiga daerah ini juga dibanjiri tumpahan Bengawan Solo.

Doktor pemodelan banjir Gatot Iryanto memastikan perubahan fungsi lahanlah penyebab banjir besar di sebagaian wilayah Jawa Tengah dan Jawa Timur itu.

SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT

"Perusakan yang paling dahsyat adalah alih fungsi lahan vegetasi ke non vegetasi. Banyak sawah berubah jadi pemukiman, hutan jadi lahan pertanian, tapi paling dahsyat sawah jadi pemukiman," kata Gatot.

Gatot menyampaikannya dalam diskusi Polemik: Bencana Alam dan Aturan Tata Ruang yang diselenggarakan Radio Trijaya di Warung Daun, Jalan Cikini Raya, Jakarta, Sabtu (5/1/2008).

Begitu diubah menjadi lahan non vegetasi, kecepatan air saat terjadi luapan akan sangat tinggi. Kondisi itulah yang terjadi di Bengawan Solo.

"Demak, Lammongan dan Tuban memang merupakan posisi genangan. Tapi Sragen, Ngawi dan Solo itu kan daerah hulu. Tapi sekarang banjir. Dilihat kondisi ini, apa iya banjir juga akan terjadi di Bogor? Bisa dibayangkan Jakarta akan jadi apa!" cetus Gatot.

Perpindahan banjir dari hilir ke hulu ini, imbuh Gatot, sangat luar biasa. Dia memastikan daerah-daerah itu sudah tidak aman sebagai hunian lagi.

Dibeberkan Gatot, data yang dilansir Dinas Sumberdaya Air PU, 16 sungai utama di Jawa yang sebelumnya dalam posisi kritis kini berubah menjadi high risk. Indikatornya terlihat dari rasio debit minimal air dibagi rasio debit maksimal air yangย  sudah di atas rata-rata.

"Perubaan karakteristik ini berarti wilayah di sekitar sungai-sungai itu berisiko terhadap banjir, kekeringan dan tanah longsor," ujarnya. (umi/nik)


Berita Terkait