Begitulah hari-hari Soeharto setelah pulang dari Rumah Sakit Pusat Pertamina (RSPP) pada 31 Mei lalu. Melalui hari-hari menjemukan itu, remang-remang Soeharto pasti mengingat masa kecilnya. Ia mungkin ingat cerita tentang Mbah Kromo.
Bayi Soeharto saat itu belum genap berusia 40 hari saat dititipkan kepada Mbah Kromo. Mbah Kromo adalah dukun bayi dan saudara ibu Soeharto, Sukirah, yang menolong kelahiran Soeharto. Putra kelahiran Desa Kemusuk itu dititipkan kepada Mbah Kromo karena ibunya sakit dan tidak bisa menyusui.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Dalam otobiografinya, Soeharto : Pikiran, Ucapan dan Tindakan Saya, pria 85 tahun itu mengakui, kenangan masa kecil yang tak pernah dilupakannya adalah memberi komando pada kerbau tatkala membajak. Maju, belok kiri atau belok kanan. Ia juga suka bermain air, bermandi lumpur atau mencari belut, ikan kegemarannya sampai usia tua.
Mungkin Soeharto juga terkenang masa-masa saat Sekolah Menengah Pertama di Muhammadiyah di Yogya. Ia harus mengayuh sepeda buntut untuk berangkat dan pulang sekolah. Dan tatkala sudah bekerja menjadi klerek bank, Soeharto pun kembali harus berkeliling dengan sepedanya.
Mengenakan pakaian Jawa lengkap, kain blangkon dan baju beskap, Soeharto muda berkeliling menemui para petani, pedagang kecil dan pemilik warung yang akan mengajukan permohonan pinjaman pada bank.
Bisa jadi Soeharto terkenang pada kegemarannya melakukan tapa kungkum. Tapa kungkum, dipercaya bisa membangun kekuatan fisik agar lebih kuat dan tahan terhadap serangan penyakit.
Tapi kini kondisi Soeharto sangat berbeda. Ia sakit-sakitan. Sejumlah organ pentingnya sudah tidak berfungsi normal. Otaknya mengalami kerusakan permanen baik sel otak kiri maupun kanan. Sementara jantung memakai alat pacu agar tetap berfungsi. Paru-paru dan ginjalnya juga sudah menurun fungsinya.
Dengan kondisi seperti itu, dokter kepresidenan yang merawat Soeharto tidak bisa memastikan peluang lama waktu pria sepuh itu bertahan hidup. Dokter masih berusaha terus mempertahankan para-paru Soeharto.
Kondisi sakit-sakitan itu pun menjadi gunjingan. Banyak yang beranggapan dengan tidak berfungsinya otak ya otomatis, orang disebut meninggal. Dalam ilmu kedokteran memang mengenal kerusakan batang otak atau mati suri. Tapi istilah ini, menurut anggota tim dokter kepresidenan dokter Mardjo Soebiandono, tidak bisa diterapkan pada Soeharto.
Definisi klinis meninggal dunia, adalah paru-paru berhenti, jantung berhenti dan semua organ tubuh berhenti. Dengan demikian, secara klinis Soeharto tetap masih hidup, hanya saja mengalami penurunan fungsi organ. "Makanya saya juga heran, kok banyak orang yang menyebutkan meninggal dunia, itu dari mana?" protes Mardjo.
Mardjo pun mengaku sering mendengar anggapan Soeharto berumur panjang dan sulit meninggal karena mempunyai kekuatan mistis. Tapi Mardjo tidak mempercayainya. Sama dengan Mardjo, pengacara Soeharto Juan Felix dan Assegaf juga tidak percaya Soeharto punya ilmu mistis. Apalagi Soeharto rajin salat lima waktu.
Dibandingkan sisi mistis, urusan panjang umur Soeharto lebih masuk akal dengan penjelasan secara medis. Kesehatan Soeharto telah terpelihara sejak muda karena
olahraga dan aktivitas fisik yang dilakoninya. Naik sepeda, kungkum, naik gunung adalah aktivitas yang akrab dengan Soeharto muda.
Aktivitas fisik juga tidak ditinggalkan Soeharto ketika telah menjadi presiden. Ia sering diberitakan main golf. Orang dekatnya pun menyatakan putra Sukirah-Kertorejo itu tetap rajin tapa kungkum dan naik gunung.
Setelah lengser dari presiden, Soeharto pun sangat beruntung bila dibandingkan orang sepuh lainnya. Kesehatannya mendapatkan perawatan maksimal dari dokter profesional. "Pak Harto mempunyai dokter pribadi yang selalu mengawasi kondisinya setiap hari," kata Assegaf.
Selain dokter pribadi, Soeharto juga masih mendapat perhatian dari dokter kepresidenan. Para dokter ini pula yang mengatur pola makan Soeharto dengan disesuaikan dengan umur dan penyakitnya. Sekarang misalnya, ia dilarang makan makanan yang pedas-pedas. Wajib mengonsumsi vitamin, dan obat-obatan tertentu.
Dengan pengawasan dokter yang demikian ketat, tentu keluhan sakit Soeharto sedikit saja langsung bisa terdeteksi. Tanpa ilmu mistis pun, dengan pemantauan ketat itu, sangat masuk akal bila kesehatan Soeharto terjaga sehingga berumur panjang.
"Saya tak percaya dengan mistik," tandas Mardjo. Assegaf dan Felix pun bersikap kompak. (iy/asy)











































