Bagi Obama, tinggal di Indonesia telah membuka matanya terhadap pandangan kemiskinan ekstrem dan kesejahteraan. Sebab kemiskinan dan kesejahteraan biasanya memiliki efek politik.
"Saya jadi mengerti ternyata ada celah yang sangat besar di banyak negara dunia. Saya jadi menghargai orang miskin, juga menjadi mengerti bagaimana korupsi bisa jadi rintangan," kata pria kelahiran 4 Agustus 1961 tersebut, seperti dikutip dari AFP, Jumat (4/1/2007).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Ketika berusia dua tahun, orangtuanya bercerai. Ayahnya kembali ke Kenya, lantas meninggal pada 1982. Ibunya kemudian menikah dengan Lolo Soetoro dari Indonesia yang juga mahasiswa East-West Center. Saat kecil, dia akrab disapa Barry.
Mereka kemudian pindah ke Jakarta. Ketika Obama berusia 10 tahun dia kembali ke Hawaii dan diasuh kakek-neneknya. Pendidikannya pun dilanjutkan di Hawaii.
Setelah lulus dari SMA, Obama melanjutkan sekolah di Universitas Columbia, dan kemudian masuk ke jurusan hukum di Harvard. Saat kuliah, dia juga bekerja sebagai community organizer di Harlem, New York, dan South Side, Chicago.
Obama lantas menjadi pengacara HAM sipil di Illinois. Kemudian selama 3 tahun dia menjabat senat di negara bagian tersebut, sebelum menjadi anggota Senat AS pada 2004. Dia pun menjadi orang keturunan Afrika pertama yang memenangkan pemilihan ke Senat AS sebagai seorang Demokrat.
Saat masih jadi senator di Illinois, dia pernah memberikan pidato utama dalam Konvensi Nasional Partai Demokrat 2004. Pidato yang disampaikannya, membuat dia menjadi perhatian dunia.
"Tidak ada Amerika hitam, Amerika putih, Amerika Latin, dan Amerika Asia. Kita adalah satu, dan kita semua setia di bawah bendera Amerika, mempertahankan AS," ujarnya kala itu. (nvt/nrl)











































