Satu-satunya transportasi menuju Kota Ambon yang harus melalui jalur laut lumpuh. Mereka terpaksa jalan kaki menelusuri hutan dan mendaki gunung.
"Kami terpaksa jalan kaki. Stok bahan makanan habis. Jadi harus melalui Desa Luhu untuk menuju Kota Ambon," ujar La Isra (39), warga Dusun Temi, Desa Luhu, Kabupaten SBB kepada detikcom di Ambon, Jumat (4/1/2008).
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Untuk mengantisipasi minimnya stok makanan, warga terpaksa menempuh perjalanan sekitar 30 km atau setengah hari perjalanan. "Dua gunung harus kami lewati begitu pun hutan. Ini terpaksa kami lakukan," kata Isra.
Di antara ratusan warga yang berjalan kaki itu terdapat puluhan pelajar dan mahasiswa yang baru menghabiskan liburan Idul Adha dan Tahun Baru.
"Sekarang sudah masuk sekolah. Kami sudah berusaha balik sejak tiga hari lalu. Tapi tak ada transportasi laut. Jadi mau tidak mau harus jalan kaki," papar Yusuf Yudi (19), warga dusun Tiang Bendera, desa Luhu, Kabupaten SBB, yang juga mahasiswa Universitas Pattimura Ambon.
Pilihan serupa dilakoni Soraya Hasanuddin (15), siswa SMP Negeri 2 Ambon. "Saya harus rela jalan kaki karena sekolah sudah masuk sejak tiga hari lalu," ujar Soraya.
Berjalan kaki memang satu-satunya pilihan bagi warga Desa Luhu daripada menempuh perjalanan penuh risiko lewat jalur laut. Sebuah kapal yang nekat berlayar dari desa ini nyaris terbalik dihantam gelombang setinggi 5 meter.
(han/umi)











































