Maskapai yang melayani perjalanan jamaah haji Indonesia, Garuda Indonesia dan Saudi Airlines, kini tak bisa lagi membagi-bagikan Zamzam kepada jamaah. Jamaah hanya diberi jerigen kosong untuk mengambilnya.
Persoalannya, pembagian jerigen tidak jelas kapan akan dilakukan, khususnya untuk jamaah haji yang pulang ke Tanah Air belakangan.
SCROLL TO CONTINUE WITH CONTENT
Hingga beberapa hari di Madinah, ratusan jamaah itu mulai resah karena belum juga mendapatkan jerigen yang dijanjikan maskapai. Padahal pemberitahuan sebelumnya menyebutkan, pihak maskapai akan membagikan jerigen kosong ukuran 5 liter kepada masing-masing jamaah untuk mengambil sendiri air Zamzam. Selanjutnya, jerigen itu akan diambil lagi oleh pihak maskapai untuk diangkut ke Tanah Air.
Hal itu memang menjadi kesepakatan antara PPIH dengan maskapai. Bahkan kepada jamaah, PPIH mengeluarkan dua kali surat edaran yang intinya hampir sama, yaitu titah raja Arab Saudi melarang perusahaan-perusahaan, termasuk di dalamnya perusahaan penerbangan, melakukan pengisian air Zamzam untuk diangkut dan didistribusikan dalam jumlah besar.
Ketua kloter, ketua rombongan, dan ketua regu diminta menyosialisasikan kepada semua jamaah bahwa mereka akan menerima jerigen kosong berkapasitas lima liter dari Perusahaan Al-Munief (rekanan Garuda Indonesia) dan perusahaan Al-Amoudi (rekanan Saudi Airlines). Jamaah diminta mengisi sendiri jerigen itu dengan air Zamzam.
Selanjutnya jerigen akan diangkut perusahaan-perusahaan rekanan kedua maskapai itu untuk dikemas dan dimasukkan ke dalam bagasi pesawat.
Bagi jamaah yang akan pulang melalui Bandara Amir Muhammad bin Abdul Aziz, Madinah dengan Saudi Airlines, jerigen langsung dibawa ke Madinah untuk dibawa Al-Amoudi ke bandara.
Penutup surat edaran itu pun sangat mantap didengar. "Di luar ketentuan itu, maka Departemen Agama RI tidak bertanggung jawab apabila jamaah haji tidak dapat membawa air Zamzam ke Tanah Air". Surat itu ditekan Ketua PPIH Nursamad Kamba.
Jauh Panggang dari Api
Tapi jauh panggang dari api. Hingga saat ini masih banyak jamaah yang belum menerima jerigen kosong dari maskapai seperti yang tertuang dalam surat edaran. Padahal seharusnya jerigen itu telah dibagikan sejak di Makkah.
Thahir R, ketua Kloter 13 Batam, mempertanyakan masalah ini. Dia berharap Maskapai Saudi Airlines, yang nantinya akan menerbangkannya kembali ke Tanah Air segera membagikan jerigen seperti yang dijanjikan.
Thahir mengaku saat ini telah melakukan antisipasi. Semua jamaah di kloternya telah diimbau untuk membeli jerigen sendiri-sendiri. Selanjutnya jerigen-jerigen itu diisi dengan air Zamzam yang juga disediakan pemerintah Arab Saudi di kompleks Masjid Nabawi.
"Jika tidak segera diberi jerigen, maka kami akan membawa jerigen berisi air Zamzam yang telah kami siapkan sendiri. Nantinya jangan sampai kami dilarang membawa air Zamzam yang telah kami siapkan sendiri ini dalam penerbangan pulang. Karena air Zamzam sangat penting bagi kami," tuturnya.
Di Bandara King Abdul Aziz, Jeddah, dampak dari peraturan baru itu jauh lebih terasa lagi. Karena khawatir tidak mendapatkan air Zamzam dari maskapai, banyak jamaah yang menenteng jerigen saat memasuki pesawat. Padahal sesuai peraturan penerbangan internasional, penumpang dilarang membawa benda cair lebih dari 100 ml di kabin pesawat.
Tidak sedikit jamaah yang ngamuk-ngamuk. Jamaah dari Kloter 1 dan 2 Surabaya, misalnya, mereka sempat melakukan aksi protes. Jika dilarang membawa air Zamzam dalam penerbangan, mereka meminta jaminan maskapai membagikan air Zamzam setibanya mereka di Indonesia.
Ketidakkonsistenan itu bukan tak mungkin memicu persoalan serius, bahkan bisa memicu keributan mengingat bahwa air Zamzam adalah oleh-oleh yang sangat berharga bagi jamaah.
Ketua PPIH Daker Madinah Ahmad Kartono mengakui adanya kelambatan dari pihak perusahaan rakanan maskapai dalam membagikan mau pun mengambil jerigen air Zamzam.
"Seharusnya jerigen itu telah dibagikan kepada jamaah sejak di Makkah agar segera diisi air Zamzam, sehingga sesampai di Madinah jerigen-jerigen itu bisa segera diambil untuk dikumpulkan, dikemas lalu diterbangkan bersama jamaah. Kami akan segera melakukan koordinasi dengan pihak maskapai sehubungan persoalan ini," janji Kartono.
Dia akan meminta maskapai, terutama Saudi Airlines yang melayani kepulangan jamaah melalui bandara Madinah, tetap mengangkut air Zamzam yang dibawa jamaah di bagasi.
Sedangkan untuk kelebihan barang-barang bawaan, jamaah diminta mengirimkannya melalui kargo. Penerbangan internasional hanya memberikan toleransi seberat 35 kg untuk bagasi bagi masing-masing penumpang.
Pengiriman air Zamzam via kargo memang dimungkinkan, namun ternyata kargo udara kini tidak lagi melayani pengiriman air Zamzam. Pengiriman air Zamzam via kargo terakhir kali dilakukan Garuda beberapa hari sebelum jamaah melakukan wukuf di Arafah.
Kargo Garuda memang masih bersedia melayani pengiriman air Zamzam, namun bukan yang dikirim via Saudi tapi air Zamzam yang telah berada di Indonesia. Hal ini menimbulkan persoalan tersendiri bagi pengirimnya. Mereka meragukan keaslian air itu.
"Jika ingin air Zamzam yang diterima nanti benar-benar air Zamzam dari Arab Saudi harus melalui kargo laut. Paling cepat 40 hari setelah pengiriman," kata Ipan Suryana, seorang petugas kargo Garuda yang bertugas di Madinah.
Tetapi 40 hari bagi para jamaah bukan waktu yang pendek. Sebab mereka ingin segera membagi-bagikannya kepada para sanak saudara setibanya di Tanah Air.
Zamzam, oh... Zamzam. (mbr/umi)











































